Ini Kunci Agar Stabilitas Rupiah Tetap Terjaga

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Ini Kunci Agar Stabilitas Rupiah Tetap Terjaga

Eko Nordiansyah • 27 January 2026 11:22

Jakarta: Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengingatkan persepsi pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan menjadi faktor krusial di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah. Salah satu risiko utama yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal serta independensi kebijakan moneter.

"Tren rupiah melemah sudah terjadi sejak tahun ini dan berpotensi semakin memburuk di bulan-bulan mendatang. Faktor paling krusial yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal dan kebijakan moneter yang semakin didominasi oleh kepentingan fiskal (fiscal dominance)," ujar Wijayanto dikutip dari Antara, Selasa, 27 Januari 2026.

Terkait Deputi Gubernur BI yang baru terpilih yakni Thomas Djiwandono, Wijayanto menilai Thomas harus membuktikan kapasitasnya dan mengelola dengan baik sentimen yang hadir di pasar agar tidak berdampak pada persepsi institusi BI.

"Sifat sentimen yang muncul menurut hemat saya temporer saja. Ia (Thomas) harus membuktikan kapasitasnya, dan memastikan kehadirannya tidak semakin memperburuk imej BI terkait independensi," jelas dia.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Ia turut mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak dilihat secara sempit hanya dari perbandingan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, dolar AS sendiri tengah melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Sebagai gambaran, Wijayanto menyebut dolar AS melemah hampir 10 persen dalam satu tahun terakhir terhadap tujuh mata uang utama dunia.

"Jika IDR (rupiah) dibandingkan dengan basket currency (dolar AS) tersebut, depresiasi akan mencapai hampir 14 persen, tentunya ini kondisi yang tidak boleh dianggap enteng," tambah dia.

Rupiah menguat tipis

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat dua poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per USD dari sebelumnya Rp16.782 per USD.

Pada penutupan Senin sore, rupiah juga bergerak menguat 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.782 per USD dari sebelumnya Rp16.820 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menganggap penguatan ini dipengaruhi respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) dana menjaga stabilitas rupiah.

“Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot,” kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)