Dolar AS. Foto: Xinhua/Zhang Chunlei.
Dolar AS Menguat, Tembus Level Tertinggi dalam 2 Bulan
Husen Miftahudin • 25 September 2026 08:35
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat untuk sesi keempat berturut-turut pada perdagangan Kamis waktu setempat. Penguatan terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi serta tekanan jual di pasar obligasi AS yang masih berlanjut.
Mengutip Investing.com, Jumat, 25 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,2 persen menjadi 101,26. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 28 Juli 2026.
Pergerakan dolar AS dipengaruhi harga minyak yang naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Kamis. Kenaikan tersebut membalikkan sebagian tren penurunan selama lima hari perdagangan yang berakhir pada Selasa. Pergerakan harga minyak sendiri turut dipengaruhi memudarnya harapan terhadap terobosan diplomatik antara AS dan Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini.
Trump menyampaikan ancaman tindakan keras terhadap Iran sekaligus membuka opsi kesepakatan. Sementara itu, Pezeshkian menegaskan posisi Iran dan menyatakan keterbukaan terhadap dialog, diplomasi, serta negosiasi.
Pembicaraan tidak langsung antara perwakilan AS dan Iran berlangsung di sela-sela agenda PBB. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu mengatakan pembicaraan tersebut belum dapat disebut sebagai terobosan besar dan merupakan kelanjutan dari diskusi sebelumnya.
Kedua negara juga masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz. Reuters pada Kamis melaporkan negosiator AS dan Iran di New York membahas jalur bertahap untuk mengakhiri konflik, termasuk kemungkinan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan blokade ekonomi Washington terhadap Iran.
Laporan tersebut sempat menekan harga minyak setelah kenaikan sebelumnya. Namun, penurunan harga berlangsung singkat. Di pasar obligasi, aksi jual Treasury AS kembali berlanjut. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 8,9 basis poin menjadi 5,205 persen, level tertinggi sejak Juli 2007.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat
Data ekonomi AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Laporan S&P Global pada Rabu menunjukkan aktivitas bisnis AS meningkat selama empat bulan berturut-turut pada September. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat sejak Juli 2021, didukung peningkatan output sektor jasa dan manufaktur.
S&P Global juga melaporkan peningkatan tekanan harga pada September. Biaya input rata-rata barang dan jasa meningkat, sementara tingkat inflasi secara keseluruhan mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022. Kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi menjadi salah satu pendorong utama.
Kombinasi aktivitas ekonomi yang kuat dan tekanan inflasi tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan mencapai hampir 69 persen, meningkat dari sekitar 55 persen sepekan sebelumnya. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendukung penguatan dolar AS.
Pergerakan yuan Tiongkok juga menjadi perhatian pasar setelah Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Yuan sedikit berubah pada Kamis di level 6,7128 per dolar. Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menerima Xi di Gedung Putih dalam kunjungan kenegaraan pertama pemimpin Tiongkok tersebut ke AS sejak 2015.
Di pasar Asia, yen Jepang melemah terhadap dolar AS untuk sesi kelima berturut-turut. Pasangan USD/JPY naik 0,3 persen menjadi 158,84. Kenaikan suku bunga Bank of Japan pada pekan sebelumnya dinilai kurang agresif.
Sementara itu, euro dan poundsterling relatif stabil terhadap dolar AS. Euro berada sedikit di bawah level USD1,1380, sedangkan poundsterling turun 0,2 persen menjadi USD1,3217.