Rupiah Masih Melemah Sore Ini, Tapi Belum Sentuh Rp17 Ribu

Kurs rupiah-dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Rupiah Masih Melemah Sore Ini, Tapi Belum Sentuh Rp17 Ribu

Husen Miftahudin • 20 January 2026 16:02

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini masih mengalami pelemahan, meski tipis

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.956 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah tipis satu poin atau setara 0,01 persen dari posisi Rp16.955 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah tipis satu poin, sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp16.956 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.955 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.945 per USD. Rupiah melemah 15 poin atau setara 0,09 persen dari Rp16.930 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.981 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah sebanyak 46 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.935 per USD.
 

Baca juga: BI Diyakini Bakal Tahan Suku Bunga Gegara Rupiah Terus-terusan Terpuruk
 

Trump 'pala batu' ingin beli Greenland


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya untuk Greenland. Ia tidak mengungkapkan apakah ia akan mengerahkan militer untuk pulau tersebut.

"Kekhawatiran akan intervensi militer AS meningkat pada Januari setelah Washington melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Trump kini menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana Presiden AS kemungkinan akan bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa," tutur Ibrahim.

Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.

Uni Eropa (UE) dan Inggris tampaknya siap untuk membalas. UE dilaporkan sedang mempersiapkan tarif balasan hingga 93 miliar euro untuk barang-barang AS dan juga mempertimbangkan untuk membatasi akses perusahaan Amerika ke pasar Eropa. 

Sementara itu, anggota parlemen Eropa mengumumkan mereka akan membekukan ratifikasi kesepakatan perdagangan yang ditandatangani Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen musim panas lalu.

Sementara itu mengenai prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. Pasar saat ini memperkirakan hanya lima persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

IMF revisi ke atas pertumbuhan ekonomi RI


Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5,0 persen. Proyeksi terbaru ini juga merevisi ke atas ramalan sebelumnya di Oktober 2025.

Proyeksi untuk 2026 lebih tinggi 0,2 persen poin dan untuk 2027 lebih tinggi 0,1 pesen. Revisi ke atas ini beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 yang naik prospek pertumbuhan menjadi 3,3 persen, dari sebelumnya hanya 3,1 persen Oktober 2025.

IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencanya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun ini, yang mengompensasi risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan global.

Terlepas dari itu, prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,1 persen pada 2026 dan 2027 itu hanya tertinggal dari Filipina yang prospek pertumbuhannya hingga 5,6 persen pada 2026 dan 5,8 persen pada 2027, serta India yang tumbuh 6,4 persen pada 2026 dan 2027.

Bila dibandingkan proyeksi terbaru Bank Dunia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terjaga di level 5,1 persen pada 2026, sebagaimana laju pertumbuhan sejak 2023-2025. Lalu, baru meningkat ke level 5,2 persen pada 2027.

"Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu menurut Bank Dunia disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah," papar Ibrahim.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan menguat.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.950 per USD hingga Rp16.980 per USD," jelas Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)