BI Diyakini Bakal Tahan Suku Bunga Gegara Rupiah Terus-terusan Terpuruk

Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani.

BI Diyakini Bakal Tahan Suku Bunga Gegara Rupiah Terus-terusan Terpuruk

Ihfa Firdausya • 20 January 2026 13:18

Jakarta: Sikap menahan suku bunga acuan (BI Rate) dinilai paling rasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menjelaskan, tekanan rupiah yang terus berlanjut mempersempit ruang pelonggaran suku bunga ke depan.

"Secara teori dan praktik, penurunan BI rate di tengah mata uang yang melemah berisiko memperbesar capital outflow dan memperburuk tekanan nilai tukar. Karena itu, hasil RDG (rapat dewan gubernur Bank Indonesia) paling rasional adalah sikap menahan suku bunga sambil menegaskan komitmen stabilitas, meskipun inflasi relatif terkendali," papar Rizal saat dihubungi, Selasa, 20 Januari 2026.

Menurut dia, ruang penurunan suku bunga baru akan terbuka kembali jika volatilitas rupiah mereda dan arus modal mulai stabil. "Dengan kata lain, dalam situasi saat ini, stabilitas nilai tukar menjadi prasyarat utama sebelum BI dapat kembali lebih akomodatif terhadap pertumbuhan," jelas Rizal.
 

Baca juga: Rupiah Ambruk hingga Nyaris Rp17 Ribu, Purbaya: Bukan Gara-gara 'Tukar Guling' Pejabat!


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

BI harus fokus stabilisasi nilai tukar


Rizal mengatakan menahan laju pelemahan rupiah pada dasarnya menuntut kombinasi kebijakan yang tegas, terukur, dan konsisten antara Bank Indonesia dan pemerintah. Dari sisi moneter, jelas dia, fokus utama BI seharusnya tetap pada stabilisasi nilai tukar.

Hal itu bisa dilakukan melalui bauran instrumen, mulai dari intervensi valas yang terukur, optimalisasi instrument Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pengelolaan likuiditas rupiah agar volatilitas tidak berubah menjadi kepanikan pasar.

Namun, kata Rizal, itu saja tidak cukup. Pemerintah perlu memperkuat sisi fundamental melalui disiplin fiskal, kejelasan arah kebijakan pembiayaan, serta langkah konkret memperbaiki neraca eksternal.

"Terutama dengan menjaga impor tetap selektif dan mendorong devisa ekspor kembali ke dalam negeri. Tanpa perbaikan persepsi risiko fiskal dan eksternal, upaya BI berisiko menjadi sekadar penahan sementara, bukan solusi yang berkelanjutan," urai dia.

Sementara itu, nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Berdasarkan data referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah hari ini bertengger di level yang mengkhawatirkan, yakni menyentuh Rp16.978 per USD.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)