Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Ambruk hingga Nyaris Rp17 Ribu, Purbaya: Bukan Gara-gara 'Tukar Guling' Pejabat!
Insi Nantika Jelita • 20 January 2026 11:48
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu oleh spekulasi pasar mengenai potensi terganggunya independensi Bank Indonesia (BI). Isu tersebut mencuat seiring wacana pengisian posisi Deputi Gubernur BI oleh Wakil Menteri Keuangan Thomas A. M. Djiwandono.
Diketahui, pada perdagangan Senin sore, 19 Januari 2026, rupiah ditutup melemah 68 poin ke level Rp16.955 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati level psikologis Rp17 ribu per dolar AS.
"Wah, orang spekulasi independensinya (BI) akan hilang. Saya pikir tidak akan begitu," tukas Purbaya di Kompleks Senayan, Jakarta, dikutip Selasa, 20 Januari 2026.
Ia menegaskan, pergerakan nilai tukar rupiah pada dasarnya ditentukan oleh fundamental ekonomi. Menurut dia, selama fondasi ekonomi dijaga dengan baik, pelemahan rupiah bersifat sementara dan akan kembali menguat.
"Nanti kalau begitu insaf, rupiahnya langsung menguat lagi, karena fondasi ekonominya kita jaga supaya semakin membaik ke depan. Pertumbuhan ekonomi juga akan semakin cepat," beber dia.
Bendahara Negara menjelaskan, upaya menjaga fondasi ekonomi dilakukan dengan berbagai upaya. Pertama, memastikan likuiditas sistem keuangan tetap memadai, yang telah disepakati untuk dijaga bersama oleh otoritas terkait.
Kedua, mempercepat realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun agar mampu mendorong aktivitas ekonomi. "Dengan likuiditas yang cukup, sektor-sektor ekonomi diharapkan berjalan (optimal)," kata dia.
| Baca juga: Purbaya Yakin Rupiah Bakal Balik Menguat Meski Hampir Tembus Rp17 Ribu |
Pemerintah fokus perbaiki iklim investasi
Selain itu, pemerintah juga berfokus memperbaiki iklim investasi melalui pembentukan satuan tugas debottlenecking atau menghilangkan hambatan. Upaya ini, kata Purbaya, mencakup pembenahan sisi penawaran dan permintaan ekonomi, investasi, serta sinkronisasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil.
Purbaya optimistis target pertumbuhan ekonomi enam persen dapat dicapai. "Taget enam persen itu tidak terlalu sulit. Tahun ini bisa, karena respon ekonomi terhadap stimulus memang cenderung agak lambat, sekitar beberapa bulan, (baru terlihat dampaknya)," ujar dia.
Ia menambahkan, indikasi pemulihan sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Aktivitas ekonomi pada Januari dinilai lebih bergairah dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Purbaya juga menyinggung kinerja pasar saham yang terus menguat. Menurutnya, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan.
"IHSG naik bukan karena pemain pasar bodoh. Mereka orang-orang pintar. IHSG sekarang all time high di level 9.133," kata dia.
Ia menilai investor, termasuk investor asing, melakukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi ekonomi, prospek investasi, serta arah kebijakan pemerintah sebelum menentukan posisi. Hal tersebut tercermin dari arus modal asing yang tercatat positif dalam tiga bulan terakhir.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Risiko pasar
Dalam kesempatan sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae berpandangan, pelemahan rupiah merupakan salah satu risiko pasar yang harus dihadapi oleh industri perbankan.
Menurut dia, dampak pelemahan rupiah perlu dinilai secara individual oleh masing-masing bank sesuai dengan profil risikonya.
Ia menjelaskan, setiap bank akan melakukan asesmen termasuk melalui uji ketahanan (stress test) untuk mengukur sejauh mana tekanan yang ditimbulkan terhadap kinerja perbankan.
"Tentu ada semacam stress test, di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu," jelas Dian. Penilaian tersebut dilakukan secara rutin oleh perbankan, sejalan dengan pengawasan yang juga dilakukan oleh OJK.