Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.
Wall Street Berbalik Melemah Usai The Fed Kerek Suku Bunga
Husen Miftahudin • 17 September 2026 08:12
New York: Pasar saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street berbalik melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah reaksi positif awal terhadap keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga mereda.
Investor kembali mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan inflasi AS masih terlalu tinggi. Pernyataan tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter.
Mengutip Investing.com, Kamis, 17 September 2026, indeks S&P 500 turun 0,4 persen menjadi 7.555,36. Indeks sempat menguat hingga 0,5 persen pada awal perdagangan.
Indeks Nasdaq Composite yang banyak diisi saham teknologi ditutup hampir tidak berubah di 25.978,43. Sebelumnya, indeks tersebut sempat naik hingga 0,9 persen.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 1,2 persen menjadi 51.462,55. Indeks saham unggulan tersebut sebelumnya sempat menguat hingga 0,2 persen.
The Fed naikkan suku bunga
FOMC secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen dari sebelumnya 3,50-3,75 persen. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023.
Dalam Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) terbaru, median proyeksi suku bunga dana federal pada akhir 2026 berada di 4,1 persen. Proyeksi tersebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut sebelum akhir tahun.
Ekspektasi kenaikan suku bunga sebelumnya sudah meningkat seiring sejumlah indikator menunjukkan ekonomi AS masih tumbuh kuat, pasar tenaga kerja tetap solid, sementara inflasi masih tinggi.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed, tercatat meningkat 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada jauh di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
"Faktanya, inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," kata Warsh kepada wartawan dalam konferensi pers setelah keputusan FOMC.
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah sinyal dalam SEP terbaru. Sedikitnya 12 anggota FOMC memperkirakan masih ada satu kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Empat anggota memperkirakan dua kenaikan tambahan, sedangkan dua anggota tidak memperkirakan kenaikan lagi. Selain itu, proyeksi median inflasi PCE inti untuk kembali ke target dua persen bergeser ke 2029 dari sebelumnya 2028.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Imbal hasil treasury naik
Selain data ekonomi, pasar obligasi AS menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor menjelang keputusan The Fed. Obligasi, terutama surat utang berjangka panjang, mengalami tekanan jual sejak pertemuan The Fed pada Juli. Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tinggi.
Pada Selasa, 15 September 2026, imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2007. Imbal hasil Treasury 30 tahun juga sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Imbal hasil Treasury sempat turun menjelang keputusan The Fed pada Rabu, tetapi kembali berbalik naik setelah konferensi pers Warsh. Imbal hasil Treasury 10 tahun tercatat naik 2,3 basis poin menjadi 5,012 persen.