Dolar AS Turun Tipis di Tengah Proposal Baru Iran Buka Selat Hormuz

Dolar AS. Foto: Xinhua/U Aung.

Dolar AS Turun Tipis di Tengah Proposal Baru Iran Buka Selat Hormuz

Husen Miftahudin • 28 April 2026 08:05

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), di tengah langkah Iran yang dilaporkan mengajukan proposal kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 28 April 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,03 persen menjadi 98,496.
 
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1720 dari USD1,1713 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3534 dari USD1,3521 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar AS diperdagangkan pada 159,45 yen Jepang, lebih tinggi dari 159,44 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,7856 franc Swiss dari 0,7855 franc Swiss.
 
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun menjadi 1,3627 dolar Kanada dari 1,3673 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 9,2247 kronor Swedia dari 9,2304 kronor Swedia.
 

Baca juga: Turun Tipis, Permintaan Dolar AS Masih Tinggi


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Iran tawarkan proposal buka kembali Selat Hormuz

 
Laporan awal pekan ini menunjukkan Teheran telah menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, proposal yang kini sedang dipertimbangkan oleh Washington.
 
Namun, sebuah laporan Wall Street Journal menunjukkan Presiden AS Donald Trump dan timnya skeptis terhadap tawaran tersebut, mengingat tawaran itu mengusulkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir Iran.
 
Mengakhiri pengayaan nuklir Iran dan mencegah pengembangan senjata nuklir adalah dua tujuan utama Washington dalam konflik yang sedang berlangsung. Penundaan pembicaraan nuklir merupakan poin penting yang menjadi kendala bagi Trump ketika mempertimbangkan proposal baru Iran, menurut laporan WSJ.
 
Namun terlepas dari proposal baru Iran, Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sementara AS juga mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap Iran. Aliran minyak melalui Hormuz tetap sedikit, sehingga harga minyak mentah tetap stabil karena pasar khawatir akan pasokan yang semakin ketat.
 
Rencana untuk lebih banyak pembicaraan yang dimediasi Pakistan antara AS dan Iran juga sebagian besar gagal selama akhir pekan, dengan status pembicaraan di masa depan sepenuhnya tidak pasti. Anggapan ini mendorong kenaikan tajam harga minyak pada Senin, dengan Brent kembali mendekati USD110 per barel.
 
Di luar perang Iran, fokus pekan ini juga tertuju pada pertemuan-pertemuan penting bank sentral di Jepang dan AS, dengan harga minyak yang lebih tinggi kemungkinan akan memicu peringatan tentang inflasi yang didorong oleh energi dalam beberapa bulan mendatang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)