Harga Emas Turun 1,9% Sepekan, Pasar Menanti Keputusan Fed

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Harga Emas Turun 1,9% Sepekan, Pasar Menanti Keputusan Fed

Husen Miftahudin • 12 September 2026 10:56

Chicago: Harga emas dunia bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat di tengah pergerakan yang terbatas. Namun, emas berada di jalur penurunan mingguan hampir dua persen akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), aksi jual obligasi pemerintah AS, dan lonjakan harga minyak.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 12 September 2026, harga emas spot naik 0,7 persen menjadi USD4.346 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka justru turun 0,4 persen menjadi USD4.388,26 per ons.

Sepanjang pekan ini, kedua kontrak tersebut telah turun masing-masing 1,9 persen. Harga emas spot juga berada di jalur penurunan selama tiga pekan berturut-turut.

Pelaku pasar logam mulia kini mencermati laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pada Jumat. Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI utama dan CPI inti masing-masing naik 0,4 persen dan 0,3 persen secara bulanan pada Agustus.

Angka tersebut dibandingkan dengan perkiraan konsensus masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen. Kenaikan tersebut juga lebih cepat dibandingkan Juli yang masing-masing tercatat 0,1 persen dan 0,2 persen.

Secara tahunan, CPI utama meningkat 3,4 persen pada Agustus, sama seperti Juli. Sementara itu, CPI inti melambat menjadi 2,4 persen dari 2,5 persen. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus.

Data tersebut meningkatkan kemungkinan Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan.

Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga seperempat poin melonjak menjadi hampir 87 persen setelah data inflasi dirilis, dari sekitar 69 persen sebelumnya.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Kondisi tersebut juga dapat memperkuat dolar AS sehingga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
 

 

PCE tetap jadi acuan inflasi Fed


Meski CPI dan indeks harga produsen (PPI) menjadi perhatian pasar, FOMC menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai indikator inflasi pilihan.

Komponen CPI dan PPI menjadi salah satu masukan dalam perhitungan PCE. Indikator tersebut telah berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2 persen selama 65 bulan berturut-turut.

Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat mulai menguat sejak Juli. Tiga presiden bank sentral regional AS saat itu tidak setuju dengan keputusan FOMC untuk mempertahankan suku bunga.

Ketua The Fed Kevin Warsh kemudian menyampaikan pandangan yang lebih agresif dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada akhir Agustus. Ia menilai tren inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan.

Indikator ekonomi lainnya turut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan. Data nonfarm payrolls yang kuat pada pekan sebelumnya dan laporan PPI Agustus pada Kamis menunjukkan percepatan pada sejumlah indikator harga.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Lonjakan harga minyak menekanan inflasi


Sementara itu, kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran turut memperburuk kekhawatiran inflasi. Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 18 persen dalam dua pekan terakhir.

Harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) juga menembus level USD100 per barel pada pekan ini untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Lonjakan tersebut terjadi setelah aksi militer antara AS dan Iran kembali meningkat menyusul kebuntuan selama beberapa pekan terkait kendali atas Selat Hormuz.

Intensitas pertempuran dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu yang tertinggi sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi.

Harga minyak sempat turun tipis pada Jumat setelah Financial Times melaporkan Oman memimpin pertemuan sejumlah negara Teluk dan Iran untuk membahas kesepakatan pemulihan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin di Salalah, Oman, menurut laporan Financial Times.

(Husen Miftahudin)