Rupiah Ditutup Naik Tipis ke Level Rp18.091/USD Hari Ini

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Rupiah Ditutup Naik Tipis ke Level Rp18.091/USD Hari Ini

Husen Miftahudin • 14 July 2026 16:20

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 14 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.091 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 18 poin atau setara 0,10 persen dari posisi Rp18.109 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 18 poin, sebelumnya sempat menguat 25 poin di level Rp18.091 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.109 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.088 per USD. Rupiah juga menguat 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp18.100 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.099 per USD naik 32 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp18.131 per USD.
 

 

AS Berlakukan lagi blokade angkatan laut terhadap Iran


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20 persen pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan.

Militer AS mengatakan akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa, menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran sambil mengizinkan pengiriman komersial netral untuk terus melewati jalur air tersebut.

"Investor tetap khawatir eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global, setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah, sementara UEA melaporkan dua kapal tanker mereka diserang di perairan Oman," papar Ibrahim.

Konflik yang kembali memanas ini terjadi setelah pertukaran serangan rudal dan drone antara pasukan AS dan Iran pada akhir pekan, yang secara efektif mengakhiri kesepahaman rapuh yang dicapai bulan lalu yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Teheran telah memperingatkan aksi militer AS yang berkelanjutan dapat memicu serangan lebih lanjut yang memengaruhi infrastruktur energi regional.

Sementara itu, lanjut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas, menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.

Selain itu, Gubernur Federal Reserve (Fed) Christopher Waller yang mengungkapkan jika Indeks Harga Konsumen (CPI) naik minggu ini, The Fed harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Waller menyatakan angka inflasi inti yang tinggi akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target dua persen tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum The Fed.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Afirmasi S&P Global Ratings direspons positif pasar


Di sisi lain, pasar merespons positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai lima persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil. 

S&P menyampaikan peringkat kredit Indonesia bertahan di BB Bberkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB. 

Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I-2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I-2026. Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar tujuh persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama.

Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri. 

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.090 per USD hingga Rp18.140 per USD," jelas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)