Siswa SD NTT Bunuh Diri, Komisi X: Tamparan Keras Dunia Pendidikan

Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani. Foto: Metro TV/Rona Marina Nisaasari.

Siswa SD NTT Bunuh Diri, Komisi X: Tamparan Keras Dunia Pendidikan

Rona Marina Nisaasari • 4 February 2026 20:12

Jakarta: Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tragedi yang diduga dipicu oleh himpitan ekonomi ini dinilai sebagai peringatan keras bagi stabilitas sistem pendidikan nasional.

“Tentu kami prihatin akibat dari peristiwa yang memilukan ini. Jadi ini alarm serius bagi dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kita terus diuji,” ujar Lalu Hadrian Irfani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
 


Lalu mengungkapkan bahwa Komisi X saat ini tengah melakukan rapat kerja bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk membahas penanganan kasus ini secara menyeluruh. Ia menegaskan perlunya kepekaan pemerintah daerah dalam memantau kondisi sosial ekonomi siswa agar kejadian serupa tidak terulang.

“Bagi kami di Komisi X, ini tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Di saat kita berbenah, di saat Bapak Presiden sangat bersemangat memperbaiki pendidikan kita, maka kami meminta pemerintah daerah juga aware,” tegasnya.

Politikus tersebut juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara orang tua, guru, hingga dinas pendidikan untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan mental anak. Menurutnya, akses terhadap alat tulis dan perlengkapan sekolah dasar tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi nyawa seorang siswa.

“Kerja sama semua pihak, orang tua, guru, stakeholder pendidikan, dinas pendidikan kabupaten, provinsi, dan tentunya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dibutuhkan untuk mengatasi persoalan ini,” tambah Lalu.


Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Sebelumnya, Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko mengonfirmasi bahwa korban berinisial YBR, 10, ditemukan meninggal dunia di Kecamatan Jerebuu. Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah TKP, motif tindakan nekat tersebut diduga karena korban merasa putus asa setelah permintaannya untuk membeli buku dan perlengkapan sekolah tidak dapat dipenuhi orang tuanya.

“Saya sudah memerintahkan Kapolres Ngada hari ini juga langsung ke rumah duka untuk memberikan bantuan, baik bantuan material maupun pendampingan mental kepada keluarga korban. Ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan dan kesehatan mental,” kata Rudi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)