Ilustrasi. Foto: Dok MI
Dolar AS Diprediksi Masuk Periode Penguatan Jangka Panjang, Ini Faktornya
Eko Nordiansyah • 20 September 2026 15:03
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan menghadapi periode penguatan berkepanjangan dalam jangka menengah hingga panjang. Selama sepekan terakhir, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang mata uang global, telah naik lebih dari satu persen.
Menurut para analis di Standard Chartered yang dilansir dari Investing, Minggu, 20 September 2026, salah satu faktor yang mendorong penguatan dolar ini adalah keputusan Federal Reserve pada hari Rabu untuk menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase untuk pertama kalinya sejak 2023.
Menyusul pengumuman tersebut, Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan komitmen The Fed untuk meredam tekanan inflasi; langkah yang ditafsirkan oleh sebagian analis sebagai sinyal hawkish dalam pandangan bank sentral.
Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 57 persen untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan The Fed berikutnya di bulan Oktober, naik dari sekitar 42 persen seminggu yang lalu, menurut data CME FedWatch.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Kembalinya kredibilitas The Fed
Para analis juga menilai bahwa The Fed telah berhasil memperkuat kembali kredibilitas dan independensinya di tengah situasi di mana Presiden Donald Trump kerap menyerukan pemangkasan suku bunga secara cepat demi mendorong pertumbuhan ekonomi.Dalam catatan kepada klien, para ahli strategi Standard Chartered menyatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed tampaknya telah menghilangkan salah satu hambatan utama pasar untuk membeli dolar, yakni kekhawatiran bahwa Ketua The Fed Warsh tidak akan menaikkan suku bunga karena tekanan dari Presiden Trump.
"Hal itu tampaknya telah mengurangi sebagian premi risiko yang sempat melekat pada USD sejak pengumuman pembelian kembali (buyback) oleh Menteri Keuangan (Scott) Bessent pada pertengahan Agustus," tulis para analis tersebut, merujuk pada operasi penting pemerintahan Trump yang dilakukan untuk menstabilkan gejolak pasar obligasi baru-baru ini.
"Pandangan kami adalah bahwa pasar valas tidak menganggap imbal hasil yang lebih tinggi akibat defisit sebagai faktor negatif bagi USD, selama inflasi dan risiko gagal bayar tetap terkendali. Dengan mengubah premi jangka waktu (term premium) menjadi imbal hasil riil, Warsh telah membuat USD menjadi lebih menarik," tambah mereka.
Optimisme pertumbuhan ekonomi
Pada saat yang sama, para trader tampaknya menafsirkan pernyataan Warsh sebagai tanda optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi. "Meskipun ia mungkin akan menyangkalnya," ujar para analis tersebut."Dukungannya terhadap vitalitas ekonomi AS mencerminkan keyakinan baik terhadap keberlanjutan imbal hasil maupun daya tarik investasi langsung dan portofolio di AS," kata para analis.
"Dalam satu langkah, Warsh mungkin telah menyingkirkan hambatan terbesar bagi pembelian USD sekaligus menciptakan hambatan terbesar bagi penjualan USD," lanjut mereka.