Dolar AS. Foto: Xinhua/Zhang Chunlei.
Dolar AS Menguat usai Pejabat The Fed Isyaratkan Suku Bunga Lebih Tinggi
Husen Miftahudin • 17 July 2026 08:22
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah Presiden Federal Reserve (The Fed) Dallas Lorie Logan menyampaikan sinyal perlunya suku bunga berada pada level yang sedikit lebih tinggi. Pernyataan tersebut mengubah sentimen pasar yang sebelumnya dipengaruhi data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Mengutip Investing.com, Jumat, 17 Juli 2026, Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen ke level 100,80. Sebelumnya, dolar AS melemah selama dua sesi berturut-turut setelah data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) Juni menunjukkan tekanan harga mulai mereda.
Sementara mengutip Xinhua, pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1438 dari USD1,1466 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3470 dari USD1,3536 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 162,39 yen Jepang, lebih tinggi dari 162,05 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,8089 franc Swiss dari 0,8047 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu bertambah menjadi 1,4048 dolar Kanada dari 1,4043 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 9,6499 krona Swedia dari 9,5898 krona Swedia.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Isyarat kenaikan suku bunga Fed
Sentimen pasar berubah setelah Lorie Logan menyampaikan pandangan yang lebih hawkish terkait kebijakan moneter. "Saat ini saya percaya suku bunga yang sedikit lebih tinggi akan lebih menyeimbangkan prospek dan risiko bagi tujuan mandat ganda Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC)," kata Logan.
Ia mengakui data inflasi Juni menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. "Data CPI bulan Juni memang menunjukkan kemungkinan skenario yang lebih menggembirakan di mana inflasi kembali mencapai target. Namun, jalur tersebut masih rapuh dan lebih merupakan harapan daripada kemungkinan," tutur dia menambahkan.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan pasar, suku bunga tinggi masih berpotensi dipertahankan lebih lama, sehingga menopang penguatan dolar AS.
Di sisi lain, prospek inflasi juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran kembali memanas setelah serangkaian serangan militer berlangsung selama lima malam berturut-turut.
Di saat yang sama, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 11 persen sepanjang pekan ini. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.