Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Naik 0,45% Hari Ini, Rupiah Balik ke Level Rp17 Ribuan
Husen Miftahudin • 16 July 2026 16:36
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 16 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.986 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 82 poin atau setara 0,45 persen dari posisi Rp18.068 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 82 poin, sebelumnya sempat menguat 85 poin di level Rp17.986 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.068 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.975 per USD. Rupiah juga menguat 85 poin atau setara 0,47 persen dari Rp18.060 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.041 per USD naik 23 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp18.064 per USD.
Inflasi AS turun
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen harga produsen AS yang secara tak terduga turun 0,3 persen pada Juni, dibandingkan dengan ekspektasi tidak ada perubahan bulanan, menyusul data inflasi konsumen yang lebih rendah awal pekan ini.
Laporan berturut-turut tersebut memperkuat tanda-tanda tekanan harga yang mendasarinya mereda dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang akan segera terjadi.
Namun, investor sebagian besar mengabaikan data inflasi yang bersifat retrospektif karena pertempuran yang kembali terjadi di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi untuk sesi keempat berturut-turut.
Eskalasi terbaru telah menghidupkan kembali kekhawatiran biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi di masa depan, berpotensi membatasi ruang lingkup Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan meskipun terjadi pendinginan tekanan harga baru-baru ini.
Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan kembali pekan ini para pembuat kebijakan tetap berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target dua persen bank sentral, sambil menekankan mereka siap untuk menyesuaikan suku bunga jika tekanan harga terbukti lebih persisten.
Menurut Ibrahim, Warsh juga meremehkan kekhawatiran investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan akan, dengan sendirinya, memicu inflasi yang lebih luas.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pemerintah komitmen kendalikan inflasi
Sementara itu, pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri. Sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
Pemerintah juga akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan.
Selain itu, Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings.
S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75 prsen. Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan. Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia.
Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.986 per USD hingga Rp18.030 per USD," jelas Ibrahim.