Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Freepik.
Saham AS Melempem, Dow Jones Selamat dan Raup Cuan Meski Tipis
Husen Miftahudin • 31 March 2026 08:06
New York: Indeks saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street sebagian besar ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Aksi jual di pasar obligasi mereda setelah beberapa komentar positif dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung tetap menjadi sorotan utama para pelaku pasar keuangan, dengan pesan yang beragam mengenai keadaan perundingan perdamaian antara AS dan Iran.
Mengutip Investing.com, Selasa, 31 Maret 2026, indeks acuan S&P 500 ditutup 0,4 persen lebih rendah pada 6.343,75 poin, berbalik arah dari kenaikan sebanyak 0,9 persen pada sesi sebelumnya. Sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga ikut melempem sebanyak 0,7 persen menjadi 20.794,64, menghapus kenaikan hingga 0,9 persen di sesi sebelumnya.
Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham unggulan justru berhasil dari penurunan. Indeks saham ini sukses bertambah meski hanya 0,1 persen menjadi 45.216,66 poin dan keluar dari wilayah koreksi.
Indeks utama Wall Street sempat anjlok pada akhir pekan lalu, bahkan setelah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda hingga 6 April tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan AS terhadap fasilitas pembangkit listrik dalam negeri.
Terlepas dari pengumuman Trump, Iran mengatakan dua pabrik baja, sebuah pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil telah diserang, yang menghiraukan perpanjangan tenggat waktu.
| Baca juga: Kontrak Berjangka Saham AS Melempem |
Konflik Timur Tengah guncang sentimen pasar
Berita-berita yang kontras mengenai upaya perdamaian AS dan Iran serta pertempuran yang terus berlanjut telah mengguncang sentimen pasar, dan situasinya mencapai puncaknya pada pekan lalu ketika Nasdaq Composite dan Dow Jones memasuki wilayah koreksi hingga merosot lebih dari 10 persen dari penutupan rekor terakhir mereka.
Indeks S&P 500, yang merupakan indikator pasar secara keseluruhan, bahkan berakhir 8,7 persen pada pekan lalu, jauh di bawah penutupan rekor terakhirnya.
"Pasar secara keseluruhan sedang menuju koreksi besar-besaran, atau penurunan 10 persen dari titik tertinggi indeks baru-baru ini. Meskipun mungkin ada penurunan lebih lanjut dalam jangka pendek, kami percaya koreksi pasar saham ini akan berlangsung lebih singkat daripada yang diperkirakan kebanyakan orang," ungkap kata Alexander Guiliano, kepala investasi di Resonate Wealth Partners.
"Saham sering kali mencerminkan skenario suram selama koreksi yang seringkali tidak terwujud. Hal ini mengatur ulang ekspektasi dan menciptakan standar yang lebih rendah bagi saham untuk dilewati," tambah dia.
Lonjakan tajam harga minyak sejak pecahnya konflik pada akhir Februari telah memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi yang kembali meningkat di berbagai negara di dunia, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan suku bunga bank sentral. Imbal hasil obligasi pemerintah telah meningkat di tengah kondisi ini, termasuk obligasi pemerintah AS, yang menekan pasar saham.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Ekspektasi inflasi jangka panjang 'terkendali baik'
Di sisi lain, Ketua Fed Jerome Powell menjadi sorotan setelah berpartisipasi dalam diskusi yang dimoderasi di Universitas Harvard. Kepala bank sentral tersebut sebagian besar mengulangi pernyataan yang telah ia sampaikan mengenai konflik Timur Tengah awal bulan ini pada penutupan pertemuan kebijakan moneter terakhir The Fed.
Powell mengatakan kebijakan moneter berada dalam posisi yang baik untuk posisi 'wait and see' sebagai dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan perekonomian AS. Kondisi ini menyiratkan bank sentral tidak mengetahui apa dampaknya.
"Ekspektasi inflasi tampaknya cukup terkendali di luar jangka pendek dan langkah yang tepat adalah mengabaikan guncangan pasokan energi," tutur Powell.
Menurut alat CME FedWatch, para pedagang tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga Fed tahun ini, meskipun ekspektasi moderat untuk kenaikan suku bunga dipangkas setelah komentar Powell.
Data pasar tenaga kerja dan aktivitas bisnis utama yang akan dirilis minggu ini (dipersingkat karena liburan) akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang tindakan suku bunga selanjutnya.