Bank Sentral Global Kompak Tahan Suku Bunga Akibat Ketidakpastian Prospek Ekonomi

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Bank Sentral Global Kompak Tahan Suku Bunga Akibat Ketidakpastian Prospek Ekonomi

Richard Alkhalik • 4 April 2026 16:15

New York: Sejumlah bank sentral mempertahankan tingkat suku bunganya secara stabil pada bulan Maret imbas ketidakpastian di tengah konflik Timur Tengah. Kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat kini membayangi prospek ekonomi global.

Para perancang kebijakan moneter, baik di negara maju maupun negara berkembang (emerging markets) kompak menunjukkan sikap kehati-hatian. Mayoritas bank sentral memilih memilih untuk menahan suku bunga atau hanya bergerak secara bertahap seiring fluktuasi harga minyak dan ketegangan geopolitik yang mempersulit jalur pelonggaran moneter.

Melansir dari CNA, Sabtu, 4 April 2026, Langkah hati-hati oleh bank sentral tersebut sebagian besar sudah diprediksi sebelumnya. Analis JPMorgan sejak pertengahan bulan lalu sudah menyatakan bahwa otoritas moneter membutuhkan waktu untuk menyadari besaran guncangan (harga minyak) dan menilai dampak jangka panjangnya. 

Dalam catatannya, JPMorgan memproyeksikan mengarah pada inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah. Ketidakpastian inilah yang pada akhirnya memaksa mayoritas bank sentral untuk berhati-hati dan mempertahankan sikap kebijakan yang netral.



(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Kebijakan bank sentral di negara maju dan berkembang

Di pasar negara maju, bank sentral secara meyakinkan tampil mempertahankan status quo tidak mengubah kebijakannya. Hal tersebut tampak, delapan dari sembilan pertemuan bank sentral sepanjang bulan Maret menghasilkan tingkat suku bunga yang tidak berubah. 

Langkah berbeda justru diambil oleh Australia dengan menaikkan biaya pinjaman sebesar 25 basis poin. Tidak ada negara maju utama yang memangkas suku bunga selama bulan tersebut, membuat akumulasi pengetatan moderat sebesar 50 basis poin secara year-to-date melalui dua kali kenaikan suku bunga oleh Australia.

Beralih ke emerging markets atau pasar negara berkembang, lanskap kebijakan moneter terpantau lebih dinamis meski prinsip kehati-hatian tetap menjadi perhatian. 

Dari 15 pertemuan di bulan Maret, 10 bank sentral menahan suku bunga, sementara empat negara melakukan pemangkasan moderat seperti Rusia sebesar 50 basis poin, serta Brasil, Meksiko, dan Polandia masing-masing memangkas 25 basis poin. 

Menariknya, Kolombia mengambil langkah perlawanan arus dengan memperketat kebijakan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin pada pertemuan terakhirnya yang memicu penarikan perwakilan pemerintah dari dewan bank sentral.

Di tengah siklus pelonggaran moneter yang tengah berjalan, sejumlah bank sentral justru secara terbuka memilih bersikap menunda atau membatasi pemangkasan suku bunga seperti di Indonesia, Afrika Selatan, Filipina, Hungaria, dan Republik Ceko, yang secara eksplisit menjadikan eskalasi konflik Timur Tengah sebagai variabel untuk menunda atau membatasi pemangkasan suku bunga.

Sepanjang tahun berjalan, bank sentral di emerging markets menorehkan angka pelonggaran bersih di level 175 basis poin. Kalkulasi tersebut ditopang oleh 10 rentetan pemangkasan suku bunga yang menyentuh 375 basis poin, serta diimbangi oleh dua kali kenaikan di Kolombia sebesar 200 basis poin. 

Variasi kebijakan moneter ini secara menyoroti laju pelemahan inflasi yang tidak merata serta kendala yang dihadapi para pembuat kebijakan dalam melonggarkan kebijakan tanpa terpengaruh oleh kondisi global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)