Dolar AS Tembus Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Dolar AS. Foto: Xinhua/Zhang Chunlei.

Dolar AS Tembus Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Husen Miftahudin • 16 September 2026 08:23

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa waktu setempat dan mencapai level tertinggi dalam dua pekan. Penguatan terjadi sehari sebelum Federal Reserve (The Fed) mengumumkan keputusan suku bunga terbaru.
 
Pelaku pasar mata uang bersiap menghadapi kenaikan suku bunga yang telah banyak diantisipasi. Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan biaya pinjaman, sementara harga minyak melanjutkan tren penguatan sepanjang pekan.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 16 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur kinerja mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama naik 0,23 persen menjadi 99,616 pada pukul 15.00 waktu setempat atau 19.00 GMT.
 
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1543 dari USD1,1557 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3481 dari USD1,3511.
 
Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 155,09 yen dari 154,05 yen. Dolar juga naik terhadap franc Swiss menjadi 0,8185 franc dari 0,8163 franc.
 
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,3917 dari 1,3902. Dolar AS turut menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,7773 dari 9,7412.
 

 

Pasar antisipasi kenaikan suku bunga Fed

 
Mengutip Investing.com, menurut alat CME FedWatch, peluang Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu mencapai 94,5 persen. Angka tersebut meningkat dari 59 persen sepekan sebelumnya. Ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan dukungan terhadap dolar AS.
 
Kenaikan ekspektasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari aksi jual di pasar obligasi AS, kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak, data pasar tenaga kerja dan inflasi terbaru AS, hingga pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang semakin ketat terhadap kebijakan moneter.
 
Adapun, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4,7 basis poin menjadi 5,008 persen pada Selasa. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2007. Yield obligasi tenor 10 tahun menjadi acuan untuk berbagai instrumen pembiayaan, termasuk kredit perumahan, utang korporasi, dan pinjaman mahasiswa.
 
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari 24 tahun. Aksi jual obligasi juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap besarnya investasi dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta peningkatan utang fiskal AS.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Harga minyak kembali menguat

 
Di pasar komoditas, harga minyak mentah kembali naik pada Selasa. Harga minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan global, naik 2,6 persen menjadi USD108,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 4,1 persen menjadi USD105,56 per barel.
 
Kenaikan harga minyak dipengaruhi laporan penghentian pemuatan minyak di pelabuhan penting Arab Saudi di Laut Merah serta penghentian operasi di tiga ladang minyak Libya. Pelaku pasar kini menanti keputusan The Fed, yang diperkirakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.
 
Perkembangan kebijakan moneter AS juga berlangsung di tengah tekanan politik. Presiden Donald Trump disebut mendorong Ketua The Fed Kevin Warsh untuk menurunkan suku bunga, sementara pemilihan paruh waktu AS dijadwalkan berlangsung pada November.
 
Ekonom Senior Interactive Brokers José Torres mengatakan pasar telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga pada Rabu.
 
"Pasar siap diuntungkan dari kenaikan suku bunga besok, yang dapat meredakan ekspektasi tekanan harga dengan menunjukkan The Fed serius dalam memerangi inflasi di atas target."
 
"Dengan faktor biaya, tidak termasuk makanan dan energi, yang berada di kisaran 2 persen, kenaikan 25 basis poin yang cenderung lunak dapat dibenarkan, karena Wall Street dapat mulai mempertimbangkan apakah ini akan menjadi langkah sekali saja bagi bank sentral," kata Torres menjelaskan.

(Husen Miftahudin)