Harga Emas Diprediksi Melemah, Ini yang Perlu Dicermati Investor

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Diprediksi Melemah, Ini yang Perlu Dicermati Investor

Eko Nordiansyah • 9 September 2026 10:58

Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu, 9 September 2026. Berdasarkan analisis analis Dupoin Futures Geraldo Kofit, pergerakan emas pada time frame daily masih menunjukkan kecenderungan bearish.

"Kondisi tersebut tercermin dari terbentuknya pola Head & Shoulder yang membuka peluang bagi XAU/USD untuk melanjutkan penurunan menuju area support USD4.281 hingga USD4.221," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu, 9 September 2026.

Ia menjelaskan, pola Head & Shoulder menjadi salah satu perhatian dalam membaca arah harga emas saat ini. Formasi tersebut menunjukkan adanya potensi perubahan momentum setelah harga sebelumnya bergerak dalam tren penguatan.

"Dengan terbentuknya pola tersebut pada grafik harian, tekanan jual masih berpeluang mendominasi apabila harga belum mampu menunjukkan pembalikan yang kuat," ujar dia.

Area USD4.281-USD4.221 menjadi level penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika tekanan bearish berlanjut, harga emas berpotensi terlebih dahulu menguji level USD4.281 sebelum bergerak lebih rendah menuju USD4.221. Namun, pergerakan di sekitar zona tersebut tetap perlu dicermati karena kemampuan support dalam menahan tekanan jual dapat menentukan arah XAU/USD selanjutnya.

Apabila support mampu dipertahankan, peluang terjadinya rebound masih terbuka. Sebaliknya, jika harga menembus area support tersebut, tekanan bearish berpotensi semakin kuat. Karena itu, level USD4.281-USD4.221 dapat menjadi acuan penting dalam melihat keberlanjutan tren harga emas dalam jangka pendek.



(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Tekanan harga emas

Dari sisi fundamental, harga emas berada di sekitar USD4.350 per troy ounce setelah mencatatkan penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap harga minyak dan risiko inflasi yang kembali menguat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Geraldo mengatakan, kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan tekanan terhadap emas melalui jalur inflasi. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

"Jika tekanan inflasi bertahan lebih lama, pasar dapat kembali memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama," ujar dia.

Ekspektasi tersebut menjadi perhatian bagi pasar emas karena suku bunga dan imbal hasil obligasi memiliki hubungan penting dengan daya tarik logam mulia. Ketika yield Treasury Amerika Serikat meningkat, biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil juga ikut naik. Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar maupun obligasi.

"Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Penguatan dolar cenderung membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Situasi tersebut dapat membatasi permintaan dan memberikan tekanan tambahan terhadap XAU/USD," kata dia.

Faktor geopolitik hingga suku bunga The Fed

Meski demikian, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset safe haven. Meningkatnya ketidakpastian global biasanya mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih defensif. Namun, dampak konflik terhadap harga minyak dan inflasi membuat pengaruh geopolitik terhadap emas tidak berjalan dalam satu arah.

Perhatian berikutnya akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, terutama Consumer Price Index atau CPI. Data tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed.

"Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap suku bunga tinggi berpotensi meningkat dan memberikan tekanan terhadap harga emas," ujar Geraldo.

Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali diperhitungkan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap dolar AS dan yield Treasury, sekaligus membuka ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.

Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal dan fundamental, Geraldo Kofit melihat XAU/USD masih memiliki risiko pelemahan pada perdagangan hari ini. Pola Head & Shoulder pada time frame daily menjadi sinyal yang perlu dicermati, dengan area USD4.281-USD4.221 sebagai support utama yang berpotensi menjadi tujuan penurunan.

Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar perlu mencermati reaksi harga di sekitar support tersebut serta perkembangan dolar AS, yield Treasury, harga minyak, dan data inflasi Amerika Serikat. Kombinasi faktor tersebut dapat menentukan apakah tekanan bearish akan berlanjut atau XAU/USD mulai menemukan momentum untuk melakukan rebound.

"Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini masih cenderung bearish. Selama tekanan jual tetap dominan dan belum terdapat sinyal pembalikan yang kuat, XAU/USD berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area USD4.281-USD4.221. Pergerakan di sekitar level tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah harga emas berikutnya," ungkap dia.

(Eko Nordiansyah)