Data Inflasi hingga Invasi AS ke Venezuela Bikin Kontrak Berjangka Saham AS Melempem

Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Data Inflasi hingga Invasi AS ke Venezuela Bikin Kontrak Berjangka Saham AS Melempem

Husen Miftahudin • 12 January 2026 08:23

New York: Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) sedikit turun pada Minggu waktu setempat (Senin WIB) karena kehati-hatian muncul menjelang pekan yang penuh dengan sejumlah laporan pendapatan kuartal keempat utama dan data inflasi Desember. 

Kontrak berjangka sedikit melemah setelah Wall Street mencapai rekor tertinggi pada perdagangan Jumat karena kenaikan saham sektor pembuatan chip, pertahanan, dan energi. Data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari perkiraan juga mengindikasikan prospek kebijakan moneter yang lunak dari Federal Reserve tahun ini. 

Namun, kehati-hatian atas perselisihan geopolitik yang sedang berlangsung di seluruh dunia, termasuk invasi AS ke Venezuela, masih membuat pasar tetap waspada. Antisipasi terhadap sejumlah petunjuk korporasi dan ekonomi minggu ini juga membuat pasar tegang. 

Mengutip Investing.com, Senin, 12 Januari 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1 persen menjadi 6.999,75 poin. Sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 0,1 persen menjadi 25.902,0 poin. Kontrak berjangka Dow Jones turun 0,1 persen menjadi 49.685,0 poin.
 

Baca juga: Wall Street Melejit, S&P 500 Ditutup pada Rekor Tertinggi


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Menanti data inflasi


Fokus pasar minggu ini akan tertuju sepenuhnya pada data inflasi indeks harga konsumen untuk periode Desember, yang akan dirilis pada Selasa. Data tersebut diperkirakan akan menunjukkan CPI utama tetap stabil, sementara CPI inti diperkirakan sedikit meningkat. 

Data yang dirilis Selasa diperkirakan akan memberikan petunjuk yang lebih pasti tentang inflasi di ekonomi terbesar dunia, dan kemungkinan akan memengaruhi prospek suku bunga.

Data CPI ini muncul setelah data inflasi untuk November menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, meskipun para analis mengatakan hal ini berpotensi disebabkan oleh gangguan yang diakibatkan oleh penutupan pemerintahan yang berkepanjangan pada akhir 2025.

Pasar secara umum memperkirakan tidak akan ada perubahan pada suku bunga The Fed di Januari, setelah bank sentral mengisyaratkan target yang lebih tinggi untuk penurunan suku bunga tahun ini. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)