Harga Emas Dunia Turun, Investor Waspada Jelang Rilis Data Inflasi AS

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Dunia Turun, Investor Waspada Jelang Rilis Data Inflasi AS

Eko Nordiansyah • 12 August 2026 08:30

Chicago: Harga emas turun pada Selasa, 11 Agustus 2026, setelah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada sesi sebelumnya. Investor kini berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari Investing, Rabu, 12 Agustus 2026, harga emas spot turun 0,5 persen menjadi USD4.368,38 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka naik tipis 0,2 persen menjadi USD4.427,32 per ons.

Pergerakan emas juga berlangsung di tengah kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Harga minyak kembali naik

Harga minyak naik hampir dua persen pada Selasa setelah melonjak sekitar lima persen pada sesi sebelumnya.

Pelaku pasar masih memantau kemungkinan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebelumnya, sejumlah pejabat AS menyatakan pembicaraan dengan Iran tengah berlangsung, tetapi Teheran membantah klaim tersebut.

Iran menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan oleh AS.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Menurut Kpler, lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz juga mengalami perlambatan drastis. Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang terkonfirmasi melintas turun dari 15 kapal pada Jumat menjadi 11 kapal pada Sabtu dan hanya enam kapal pada Minggu.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Data inflasi jadi penentu arah suku bunga

Fokus pelaku pasar logam mulia kini beralih ke data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli. Data CPI dijadwalkan dirilis pada Rabu, sedangkan PPI pada Kamis.

Rilis data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Para ekonom memperkirakan inflasi umum dan inflasi inti secara bulanan akan meningkat dibandingkan Juni. Namun, secara tahunan, keduanya diperkirakan sedikit melambat.

Analis JPMorgan yang dipimpin Abiel Reinhart memperkirakan CPI umum naik 0,12 persen secara bulanan atau 3,4 persen secara tahunan pada Juli. Sementara CPI inti diperkirakan meningkat 0,22 persen secara bulanan atau 2,5 persen secara tahunan.

"Kami memperkirakan IHK umum naik 0,12 persen secara bulanan (3,4 persen secara tahunan) pada bulan Juli dan IHK inti meningkat 0,22 persen secara bulanan (2,5 persen secara tahunan)," ujar Reinhart.

Data inflasi akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed berikutnya. Inflasi yang lebih rendah berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan mendukung harga emas.

Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menekan prospek emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

(Eko Nordiansyah)