Saham AS Bangkit, Dow Jones Menguat hingga 1,08%

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id

Saham AS Bangkit, Dow Jones Menguat hingga 1,08%

Husen Miftahudin • 16 October 2026 08:00

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah yang meredakan tekanan terhadap pasar saham. Penguatan tersebut membantu saham-saham teknologi dan semikonduktor menahan tekanan di tengah kekhawatiran mengenai pembiayaan ekspansi berbasis utang.
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 16 Oktober 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 556,21 poin atau 1,08 persen menjadi 52.177,69. Indeks S&P 500 menguat 25,12 poin atau 0,33 persen ke level 7.744,06. Sementara itu, Nasdaq Composite bertambah 20,16 poin atau 0,08 persen menjadi 26.713,03.
 
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, delapan sektor berakhir di zona hijau. Sektor kesehatan memimpin kenaikan dengan penguatan 1,84 persen, diikuti sektor material yang naik 1,71 persen. Sebaliknya, sektor energi melemah 1,55 persen dan sektor teknologi turun 0,54 persen.
 
Adapun, perbaikan sentimen pasar terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menjadi acuan biaya pinjaman. Kondisi tersebut membantu sejumlah saham teknologi yang sebelumnya tertekan untuk memangkas kerugian.
 
Di sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI), saham penyedia komputasi awan CoreWeave melonjak hampir enam persen. Kenaikan ini membalikkan sebagian penurunan lebih dari 15 persen pada perdagangan Rabu akibat kekhawatiran investor terhadap akumulasi utang untuk membiayai ekspansi perangkat keras perusahaan.
 
Saham produsen memori Micron Technology juga pulih dari tekanan selama perdagangan dan ditutup menguat 1,87 persen. Namun, kekhawatiran mengenai keberlanjutan pertumbuhan industri AI masih membayangi pasar. CNBC melaporkan pendapatan Anthropic mencapai USD16,8 miliar pada kuartal III-2026.
 
Meski mencerminkan pertumbuhan bisnis yang besar, perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan sebagian pelaku pasar mengenai kemampuan pertumbuhan pendapatan AI untuk menopang valuasi tinggi perusahaan produsen cip.
 

 

Inflasi produsen AS melonjak

 
Di tengah pemulihan bursa saham, tekanan inflasi di AS masih menjadi perhatian investor. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir melonjak 1,3 persen pada September 2026. Angka tersebut mendorong tingkat inflasi tahunan menjadi 6,3 persen, tertinggi sejak 2022.
 
Kenaikan itu menyusul data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Rabu, 14 Oktober 2026, yang dilaporkan lebih tinggi daripada perkiraan pasar.
 
Perkembangan tersebut menambah tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, terutama ketika tekanan harga masih berlanjut menjelang pertemuan kebijakan moneter berikutnya.
 
Kepala Strategi Pasar Global TradeStation David Russell menilai data inflasi produsen memperkuat indikasi meningkatnya tekanan harga, terutama di tengah tingginya harga energi. "Laporan PPI hari ini, setelah CPI hari Rabu, menegaskan inflasi semakin memburuk karena harga energi tetap tinggi. Terlepas dari ada atau tidaknya pemilu, harga terus naik dan The Fed mungkin terpaksa bertindak," ujar dia.
 
Mengutip CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 29 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan dalam dua pekan mendatang. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Desember diperkirakan mencapai 88 persen.
 
Ekspektasi tersebut mencerminkan perhatian investor terhadap risiko inflasi yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter AS dan pergerakan pasar keuangan.


(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Saham Walmart dan Nike menguat

 
Penguatan bursa saham AS juga ditopang sejumlah saham di luar sektor teknologi, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang kebutuhan konsumen.
 
Saham Walmart naik 1,47 persen setelah Deutsche Bank menaikkan rekomendasi saham perusahaan ritel tersebut menjadi beli dari sebelumnya tahan. Keputusan itu didasarkan pada prospek bisnis Walmart pada 2027.
 
Deutsche Bank memperkirakan margin perusahaan berpotensi meningkat. Bank tersebut juga menilai kondisi inflasi saat ini dapat mendukung kemampuan Walmart menarik konsumen.
 
Sementara itu, saham Nike melonjak lebih dari 5 persen dan menjadi salah satu pendorong kenaikan di sektor barang konsumsi non-esensial.
 
Berbeda dengan kedua saham tersebut, Apple ditutup melemah 0,28 persen. Pada perdagangan Rabu, perusahaan teknologi itu menjadi perusahaan kedua setelah Nvidia yang pernah menutup perdagangan dengan kapitalisasi pasar di atas USD5 triliun.

(Husen Miftahudin)