Dolar AS Akhirnya Tergelincir Usai Data Pekerjaan di Bawah Ekspektasi

Dolar AS. Foto: Xinhuanet.

Dolar AS Akhirnya Tergelincir Usai Data Pekerjaan di Bawah Ekspektasi

Husen Miftahudin • 3 October 2026 08:07

New York: Dolar AS mengakhiri penguatan selama empat hari berturut-turut pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Meski melemah pada perdagangan terakhir pekan ini, dolar AS masih menuju penguatan secara mingguan. Pergerakan tersebut didukung pelemahan tajam di pasar obligasi pemerintah AS serta tekanan terhadap euro.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 3 Oktober 2026, Indeks Dolar AS yang mengukur nilai dolar terhadap enam mata uang utama turun 0,17 persen menjadi 101,933.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1252 dari USD1,1235 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3239 dari USD1,3190.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap yen Jepang menjadi 157,80 yen dari 158,11 yen. Dolar juga turun terhadap franc Swiss menjadi 0,8287 franc dari 0,8317 franc.

Sebaliknya, dolar AS menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,4259 dari 1,4236. Terhadap krona Swedia, dolar melemah menjadi 10,0366 dari 10,0597.
 

 

Data pekerjaan AS tekan ekspektasi kenaikan bunga Fed


Menukil Investing.com, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan jumlah pekerjaan nonpertanian bertambah 29 ribu pada September 2026. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan 89 ribu dan menjadi pertumbuhan bulanan paling lambat sepanjang tahun ini.

Selain itu, jumlah pekerjaan nonpertanian pada Juli dan Agustus direvisi turun dengan total 60 ribu. Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1 persen pada Agustus.

Data tersebut memperkuat perhatian pasar terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS. Pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi pertimbangan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga, terutama ketika inflasi masih berada di atas target.

Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed akhir Oktober turun menjadi sekitar 23 persen. Sementara itu, peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di sekitar 77 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga juga telah menurun sejak awal pekan setelah indikator inflasi pilihan The Fed menunjukkan angka lebih rendah dari perkiraan dan moderasi dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka inflasi utama sebesar 3,4 persen masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Pasar obligasi AS tertekan


Tekanan di pasar obligasi AS sempat mereda setelah laporan ketenagakerjaan dirilis seiring turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, aksi jual kembali berlanjut pada perdagangan berikutnya.

Penurunan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed membantu obligasi berjangka pendek yang lebih sensitif terhadap suku bunga. Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun tercatat turun 3,3 basis poin sepanjang pekan.

Sebaliknya, obligasi jangka panjang masih menghadapi tekanan. Imbal hasil Treasury 10 tahun naik 10,7 basis poin, sedangkan imbal hasil Treasury 30 tahun meningkat 13,6 basis poin sepanjang pekan.

Pada Kamis, imbal hasil Treasury 10 tahun dan 30 tahun masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 1 April 2002 dan 20 Mei 2002. Tekanan terhadap pasar obligasi menjadi salah satu faktor yang turut mendukung penguatan dolar AS sepanjang pekan.

(Husen Miftahudin)