Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi dalam 1,5 Tahun, Euro hingga Yen Menyerah
Husen Miftahudin • 2 October 2026 08:49
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tajam pada perdagangan Kamis waktu setempat dan mencapai level tertinggi dalam hampir satu setengah tahun.
Penguatan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi setelah data ekonomi menunjukkan kenaikan biaya bahan baku yang dihadapi produsen AS. Pelemahan euro setelah pengumuman rancangan anggaran Prancis turut menopang dolar AS.
Mengutip Xinhua, Jumat, 2 Oktober 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama naik 0,64 persen menjadi 102,102.
Di pasar valuta asing New York, euro melemah menjadi USD1,1235 dari USD1,1332 pada perdagangan sebelumnya. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,319 dari USD1,3262.
Dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 158,11 yen dari 157,34 yen. Namun, dolar AS melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,8317 franc dari 0,8354 franc.
Terhadap dolar Kanada, dolar AS naik menjadi 1,4236 dari 1,4229. Sementara itu, terhadap krona Swedia, dolar AS menguat menjadi 10,0597 dari 10,0103.
Baca Juga :
Rupiah Ditutup Turun ke Rp17.966/USD Kamis Sore
Data ISM jadi perhatian pasar
Mengutip Investing.com, pergerakan dolar AS turut dipengaruhi data manufaktur terbaru dari Institute for Supply Management (ISM). Setelah sehari sebelumnya pasar mencermati laporan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, perhatian kembali tertuju pada tekanan harga di sektor manufaktur.
Indeks harga ISM yang mengukur perubahan harga bahan baku dan input yang dibayarkan produsen meningkat menjadi 77,9 pada September dari 71,1 pada Agustus. Angka tersebut mendekati level 78,3 pada Maret saat konflik AS-Iran dimulai.
Di sisi lain, indeks aktivitas manufaktur secara keseluruhan menunjukkan ekspansi pada September. Kondisi tersebut menandai ekspansi sektor manufaktur AS selama sembilan bulan berturut-turut.
Di pasar obligasi, Treasury AS berbalik menguat pada Kamis setelah sebelumnya mengalami aksi jual yang mendorong instrumen jangka panjang ke level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun 6,5 basis poin menjadi 5,246 persen. Imbal hasil Treasury 30 tahun juga turun 2,3 basis poin menjadi 5,616 persen.
Perhatian pasar selanjutnya beralih ke laporan ketenagakerjaan nonpertanian AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang dicermati pasar dalam melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sejumlah data yang dirilis pada Rabu menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS masih kuat, pasar tenaga kerja tetap bertahan, dan inflasi mulai mereda. Perkembangan tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Anggaran Prancis tekan euro
Di Eropa, pasar valuta asing mencermati rancangan anggaran Prancis untuk 2027 yang dipresentasikan pada Kamis. Pemerintah Prancis menargetkan defisit publik sebesar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027.
Kondisi fiskal Prancis masih menjadi perhatian. Defisit publik negara tersebut diproyeksikan mencapai 5,4 persen dari PDB tahun ini, sedangkan rasio utang publik mendekati 120 persen terhadap PDB.
Obligasi pemerintah Prancis atau OAT juga mengalami tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2002, sementara selisih imbal hasil antara obligasi Prancis dan Jerman melebar.
"Secara total: EUR54 miliar (USD60,71 miliar) dalam upaya untuk menurunkan defisit menjadi 4,8 persen. Dengan menambahkan upaya baru untuk pertahanan kita, defisit akan turun menjadi 5 persen," kata Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu melalui media sosial.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, euro melemah 0,7 persen menjadi USD1,1243. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 17 Juni.