Ilustrasi emas batangan. Foto: Investopedia.
Jadi Aset Favorit Investor, Harga Emas Bakal Terus Meroket
Husen Miftahudin • 27 January 2026 10:49
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) kembali mencetak lonjakan signifikan pada awal pekan ini, mencerminkan kuatnya arus dana ke aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, emas spot melonjak lebih dari dua persen dan berhasil menembus tonggak psikologis USD5.000 per troy ons.
Kenaikan ini bahkan berlanjut hingga mendekati area USD5.100 dengan harga sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level USD5.111 sebelum sedikit terkoreksi dan diperdagangkan di kisaran USD5.095. Lonjakan tajam tersebut didorong oleh eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran stabilitas keuangan global, serta aksi berkelanjutan bank sentral yang terus menambah kepemilikan emas sebagai diversifikasi cadangan devisa.
Menurut analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, kondisi teknikal emas saat ini berada dalam fase yang sangat kuat. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada emas semakin menguat.
"Harga emas bergerak stabil di atas rata-rata pergerakan utama, menandakan dominasi buyer masih sangat solid meskipun volatilitas meningkat di sekitar level tertinggi sepanjang masa," ungkap Andy dalam analisis harian, Selasa, 27 Januari 2026.
Andy menilai selama harga mampu bertahan di atas area support psikologis USD5.000 bias pergerakan emas masih cenderung ke arah atas. Dalam proyeksi pergerakan hari ini, jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpotensi melanjutkan reli menuju area USD5.150.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pasar yang berada di wilayah overbought rawan terhadap aksi ambil untung. Apabila harga gagal mempertahankan momentumnya, potensi koreksi terdekat diperkirakan mengarah ke area USD4.990 sebagai support penting jangka pendek.
| Baca juga: Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons |
Ditopang sentimen pasar global
Dari sisi fundamental, jelas Andy, sentimen pasar global saat ini sangat mendukung penguatan emas. Pada sesi Asia Selasa, harga emas masih bertahan di area tinggi sekitar USD5.050, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian geopolitik dan hubungan internasional Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketegangan setelah mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang Kanada jika negara tersebut mencapai kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok.
"Langkah agresif ini memperkuat kekhawatiran akan terulangnya perang dagang global, mendorong investor untuk kembali mencari perlindungan pada aset safe-haven seperti emas," papar Andy.
Selain itu, isu independensi Federal Reserve juga turut menopang harga emas. Pasar menanti keputusan Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya, dengan spekulasi kandidat yang lebih dovish dapat meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini.
Menurut dia, suku bunga yang lebih rendah akan menekan imbal hasil riil dan mengurangi biaya peluang memegang emas, sehingga semakin memperkuat daya tarik logam mulia tersebut.
Fokus pelaku pasar kini juga tertuju pada keputusan suku bunga Fed yang akan diumumkan pada Rabu, 28 Januari 206, bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 persen sampai 3,75 persen. Pernyataan Ketua Fed Jerome Powell akan menjadi kunci, karena nada yang lebih hawkish berpotensi memberikan dukungan jangka pendek bagi dolar AS dan menahan laju emas.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Emas masih jadi aset favorit investor
Di sisi lain, rumor potensi intervensi otoritas Jepang dan AS untuk menopang yen turut menekan greenback, memberikan ruang tambahan bagi emas untuk menguat. Meski data ekonomi AS seperti pesanan barang tahan lama menunjukkan pemulihan yang solid, pasar tetap lebih fokus pada risiko geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Dengan kombinasi faktor teknikal yang sangat bullish dan latar belakang fundamental yang sarat ketidakpastian, Andy menilai emas masih berada dalam jalur kenaikan.
"Selama tensi global belum mereda dan dolar AS tetap rentan, emas diperkirakan akan terus menjadi aset favorit investor dalam menjaga nilai dan stabilitas portofolio," tutur Andy.