Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.166 per USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.166 per USD

Eko Nordiansyah • 20 April 2026 09:19

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah menguat saat dolar AS juga mulai bangkit.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 20 April 2026, rupiah berada di level Rp17.166 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 23 poin atau setara 0,13 persen dari Rp17.189 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.184 per USD. Rupiah terpantau melemah dibandingkan pembukaan Jumat pekan lalu yang sebesar Rp17.137 per USD.

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah. Mata uang Garuda ditaksir akan berada di rentang Rp17.180 sampai dengan Rp17.220 per USD.

Ibrahim menjelaskan, gerak rupiah dipengaruhi ketegangan konflik AS-Iran. Meski ada optimisme konflik Timur Tengah akan segera berakhir usai gencatan senjata selama 10 hari antara Iran dan AS.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Dilaporkan Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran telah menawarkan untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. Trump mengklaim sudah mendekati kesepakatan dengan Iran.

“Untuk mencegah konflik, para negosiator AS dan Iran berupaya mencari memorandum sementara sebagai ganti pesimisme adanya kesepakatan perdamaian komprehensif,” ujar Ibrahim.

Kondisi domestik tertekan konflik AS-Iran

Sementara kondisi domestik tampak ekonomi Indonesia mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Hal itu terlihat dari inflasi yang terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia. 

Namun, jelang akhir kuartal I-2026 muncul tekanan eksternal, akibat eskalasi perang AS-Iran dengan celag membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi perhitungan dasar APBN.

Harga minyak Brent sempat menembus USD118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

“Walaupun harga minyak mentah naik, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung,” kata Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)