Rupiah Ditutup ke Rp17.763/USD Rabu Sore

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Ditutup ke Rp17.763/USD Rabu Sore

Eko Nordiansyah • 2 September 2026 16:13

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah karena konflik AS dan Iran.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 2 September 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.763 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 19 poin atau setara 0,11 persen dari posisi Rp17.744 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.750 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 28 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.722 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.770 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang di level Rp17.727 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Ketegangan di Timur Tengah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, kembali memanasnya situasi di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar keuangan.

Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah terjadi aksi saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir pada Minggu. Kondisi tersebut meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat memasuki fase kebuntuan ekonomi.

Sentimen lain berasal dari arah kebijakan moneter AS. Pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish dan kembali meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga paling cepat pada September. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.

Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada September. Probabilitas tersebut meningkat dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.

Dari dalam negeri, kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tercermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) yang turun menjadi 49,8 pada Agustus dari 50,2 pada Juli 2026.

Level PMI di bawah ambang batas 50,0 menunjukkan sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah mencatat ekspansi tipis pada bulan sebelumnya.

(Eko Nordiansyah)