Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Berpotensi Koreksi, Ini Penyebabnya
Husen Miftahudin • 2 September 2026 10:48
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai emas pada kerangka waktu harian (daily) masih berpeluang melanjutkan koreksi menuju area support USD4.237-USD4.204.
Meski berpotensi melemah, pergerakan tersebut masih dinilai sebagai koreksi dalam pembentukan secondary trend setelah emas sebelumnya mengalami tren kenaikan. Selama area support mampu menahan tekanan jual, peluang harga kembali mengikuti tren utama masih terbuka.
Berdasarkan analisis pada grafik daily, pergerakan emas belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap tren utama. Pelemahan yang berlangsung saat ini lebih mencerminkan pembentukan tren sekunder di tengah pergerakan harga sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat koreksi belum secara otomatis menjadi sinyal pembalikan tren jangka panjang. Karena itu, area support USD4.237–USD4.204 menjadi level penting yang perlu diperhatikan untuk menentukan arah XAU/USD berikutnya.
"Jika harga mendapatkan respons positif dari area tersebut, pembeli berpotensi kembali masuk dan mendorong harga emas menguat. Dalam skenario tersebut, peluang XAUUSD melanjutkan tren utama masih terbuka. Sebaliknya, jika support gagal dipertahankan, tekanan jual berpotensi menguat dan membuka ruang bagi harga bergerak ke level yang lebih rendah," ungkap Geraldo dalam analisisnya, Rabu, 2 September 2026.
Geraldo mengatakan pelaku pasar perlu membedakan koreksi dengan perubahan tren. Penurunan harga dalam suatu tren tidak selalu menandakan tren utama telah berakhir. Dalam kondisi XAU/USD saat ini, pergerakan bearish masih dipandang sebagai secondary trend selama area support acuan belum ditembus secara signifikan.
"Dengan demikian, pergerakan harga di area USD4.237–USD4.204 menjadi perhatian untuk melihat apakah koreksi berakhir atau berkembang menjadi tekanan jual yang lebih besar," papar dia.
Harga minyak pengaruhi sentimen emas
Dari sisi fundamental, pergerakan emas turut dipengaruhi dinamika pasar energi dan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak setelah kembali terjadi eskalasi antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Harga minyak disebut meningkat lebih dari USD4 per barel sehingga pasar kembali memperhitungkan risiko inflasi dari sektor energi.
Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter. Dupoin Futures menilai perkembangan tersebut perlu diperhatikan karena peningkatan risiko inflasi dapat memengaruhi pandangan pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika tekanan inflasi meningkat, pasar berpotensi kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Selain harga minyak, imbal hasil atau yield Treasury AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan XAUUSD. Kenaikan yield dapat memberikan tekanan terhadap emas karena instrumen Treasury memberikan imbal hasil kepada investor. Ketika yield meningkat, daya tarik aset berbunga dapat lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
"Karena itu, pergerakan yield Treasury menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati bersamaan dengan harga emas," urai Geraldo.
Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah emas. Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi kekuatan dolar sekaligus harga XAUUSD.
Jika pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama, dolar AS berpotensi menguat dan memberikan tekanan terhadap emas. Sebaliknya, pelemahan dolar dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Risiko geopolitik berpotensi topang emas
Di tengah tekanan dari faktor suku bunga dan dolar AS, risiko geopolitik menjadi sentimen yang berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Eskalasi AS-Iran di kawasan Selat Hormuz dapat meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas harga emas, terutama jika ketegangan geopolitik kembali meningkat.
Pelaku pasar juga akan mencermati perubahan ekspektasi suku bunga menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan pasar untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed. Perubahan ekspektasi suku bunga berpotensi memengaruhi yield Treasury dan dolar AS yang selanjutnya berdampak terhadap pergerakan XAUUSD.
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental, Geraldo memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan koreksi menuju area USD4.237–USD4.204 pada perdagangan hari ini.
Area tersebut menjadi support penting yang dapat menentukan arah emas selanjutnya. Selama support bertahan, koreksi masih dapat dikategorikan sebagai secondary trend dan belum mengubah tren utama.
"Sebaliknya, penembusan support berpotensi memperbesar tekanan bearish. Pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan harga minyak, yield Treasury, dolar AS, risiko geopolitik AS-Iran, serta ekspektasi suku bunga The Fed sebagai sejumlah faktor yang memengaruhi XAU/USD sepanjang perdagangan," tutup Geraldo.