Ilustrasi pencegahan penyakit. Foto: Dok. Antara.
Puskesmas dan RS Diminta Laporkan Kasus ISPA Berdasarkan Usia
Fachri Audhia Hafiez • 31 August 2026 23:21
Jakarta: Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah diminta membentuk sistem surveilans harian khusus. Hal ini untuk memantau penyakit akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Puskesmas dan rumah sakit harus melaporkan kasus ISPA, asma, pneumonia, iritasi mata, gangguan kulit, serta perburukan penyakit jantung dan paru berdasarkan kecamatan dan kelompok usia,” jelas Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini dalam keterangannya, Senin, 31 Agustus 2026.
Baca Juga :
Yahya menegaskan, pemetaan data pelaporan penyakit harian ini sangat mendesak. Karena untuk penanganan medis di lapangan tepat sasaran dan berkeadilan.
“Data itu harus dipadankan dengan kualitas udara agar Pemerintah mengetahui wilayah yang membutuhkan tambahan tenaga kesehatan, obat, oksigen, dan ruang perawatan,” ucap Yahya.
Tercatat sekitar 3,4 juta penduduk terdampak karhutla yang tersebar di tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Berdasarkan data Kemenkes per 25 Agustus 2026, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) melambung tinggi, seperti di Kalimantan Barat yang menyentuh angka 165.747 kasus dalam kurun waktu tujuh bulan.
Ia juga mengingatkan, data kualitas udara harus langsung diterjemahkan menjadi tindakan kesehatan yang mengikat. Termasuk pengerahan pelayanan kesehatan bergerak hingga penyediaan ruang aman udara bersih.
“Masyarakat tidak boleh hanya diberi informasi bahwa udara sedang tidak sehat, tetapi tetap dibiarkan beraktivitas tanpa perlindungan dan tanpa akses pemeriksaan kesehatan," tegas Yahya.

Ilustrasi kabus asap. Foto: Dok. Antara.
Selain itu, pendataan aktif harus menyasar kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, hingga penderita komorbid agar mendapatkan tindak lanjut secara proaktif oleh puskesmas setempat.
“Bayi, balita, ibu hamil, lansia, penderita asma, penyakit paru, dan penyakit jantung harus didata secara aktif dan dihubungi oleh puskesmas, bukan menunggu mereka datang dalam kondisi memburuk,” sebut Yahya.
Di samping pemenuhan fasilitas medis dan obat-obatan gratis bagi warga terdampak, Yahya juga menyoroti pentingnya jaminan keselamatan serta perlindungan maksimal bagi petugas dan relawan yang berjuang di garis depan pemadaman api.