Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya. Foto: Istimewa.
Berjasa Terhadap Republik, Willy Aditya Perjuangkan Hak Retaker Dokter
Anggi Tondi Martaon • 20 September 2026 00:33
Jakarta: Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengatakan sejarah berdirinya Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran dokter. Hal itu disampaikan Willy dalam diskusi publik bertajuk Menata Kesempatan yang Adil bagi Retaker Dokter: Tantangan dan Solusi ke Depan di Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta.
“Republik ini lahir dari tangan dokter. Bukan kita saja yang lahir dari tangan bidan dan dokter,” kata Willy melalui keterangan tertulis, Minggu, 20 September 2026.
Willy mengatakan pandangan tersebut juga menjadi salah satu alasan dirinya terlibat dalam pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran (Dikdok) saat menjadi Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Periode 2019-2024. Keterlibatan tersebut tak lepas dari persoalan yang dihadapi para retaker dokter, termasuk mereka yang belum lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Saat ini, retaker dokter ada sebanyak 1.023 orang. Willy menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kelulusan, tetapi juga menyangkut sistem pendidikan kedokteran secara keseluruhan. Willy menyebut sistem pendidikan kedokteran di Indonesia masih menghadapi persoalan feodalisme dan liberalisme.
Baca Juga :
Rentetan Kematian Dokter-dokter Internship
Willy juga menekankan pentingnya mengembalikan nilai humanisme dalam pendidikan kedokteran. Menurut dia, dokter tidak cukup hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga harus menjadikan kemanusiaan sebagai landasan dalam menjalankan profesinya.
“Kita bersama-sama mengembalikan sumpah kedokteran. Apa sumpahnya? Mereka bersumpah atas nama kemanusiaan,” beber Willy.
Willy berpesan kepada para calon dokter agar kelak tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Mereka diminta menjadi dokter yang humanis.

Ilustrasi dokter. Foto: Medcom.id.
“Ketika nanti Anda lulus UKMPPD, jadilah dokter yang humanis. Jadilah dokter yang membela rakyat. Jadilah dokter yang berpraktik untuk rakyat,” tegas Willy.
Willy menekankan, pembenahan pendidikan kedokteran membutuhkan kerja bersama, bukan hanya mengandalkan perubahan regulasi.
“Selain memanusiakan dokter dengan spirit humanisme, tapi juga memanusiakan sistem pendidikan kedokteran. Itu tugas kita semua,” pungkas Willy.
Hadir dalam diskusi publik tersebut, Ketua Pergerakan Dokter Muda Indonesia (PDMI) Mikawirdani, Dokter RS Sadewa Dinda Rizki, dan Satria Aji Imawan Akademisi Undip.