Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah
Rupiah Turun Tipis ke Rp16.893 per USD
Eko Nordiansyah • 12 March 2026 16:06
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelamahan. Rupiah melemah tipis dari dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 12 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.893 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah tujuh poin atau setara 0,04 persen dari posisi Rp16.886 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.885 per USD. Rupiah melemah 23 poin atau setara 0,14 persen dari Rp16.862 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.899 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.867 per USD.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Pasar energi terguncang
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang terguncang oleh gangguan di pasar energi, karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut. Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam.Presiden AS Donald Trump mengklaim minggu ini perang hampir berakhir. Tetapi Iran menolak klaimnya, menyatakan Teheran akan memutuskan kapan konflik berakhir. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia, dengan gangguan pasokan yang berkepanjangan diperkirakan akan memiliki konsekuensi buruk bagi perekonomian yang sangat bergantung pada impor energi.
Selain itu, Data CPI AS untuk Februari akan dirilis pada Rabu dan diharapkan memberikan petunjuk yang lebih jelas tentang inflasi dan suku bunga di ekonomi terbesar di dunia. Inflasi CPI utama diperkirakan tetap stabil di 2,4 persen (yoy), sementara CPI inti diperkirakan tetap di 2,5 persen.
"Meskipun angka tersebut kemungkinan tidak akan mencerminkan lonjakan harga energi setelah perang Iran, angka tersebut tetap akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pengeluaran konsumen dan kesehatan ekonomi secara keseluruhan," papar Ibrahim.
Angka CPI ini muncul setelah data penggajian penting untuk Februari jauh lebih lemah dari yang diperkirakan, menimbulkan beberapa kekhawatiran tentang apakah ekonomi AS sedang mendingin.