Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua/Michael Nagle
Wall Street Ditutup Melemah, Nasdaq Turun Lebih dari 1%
Eko Nordiansyah • 24 September 2026 08:15
New York: Wall Street ditutup di zona merah pada Rabu, 23 September 2026, karena aksi jual di pasar obligasi AS menekan saham-saham teknologi. Sementara itu, harga minyak menghentikan tren penurunan selama lima hari saat pelaku pasar mencermati sinyal diplomatik yang beragam antara AS dan Iran.
Investor juga akan memantau kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington yang dimulai pada Rabu; ini merupakan kunjungan kenegaraan pertamanya dalam kurun waktu lebih dari satu dekade.
Dikutip dari Investing, Kamis, 24 September 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,7 persen dan berakhir di level 7.709,62 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average juga turun 0,7 persen dan menetap di level 51.512,42 poin. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 1,1 persen dan ditutup pada level 26.936,04 poin.
Imbal hasil melonjak, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed menguat
Obligasi Treasury mengalami aksi jual besar-besaran pada hari Rabu, dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas tinggi serta komentar bernada hawkish dari seorang pembuat kebijakan Federal Reserve. Kenaikan harga minyak juga turut memperburuk sentimen pasar.Seminggu setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut tahun ini, laporan terbaru S&P Global mengenai aktivitas bisnis AS kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.
Menurut S&P Global, aktivitas bisnis AS meningkat selama empat bulan berturut-turut pada bulan September, mencatatkan laju pertumbuhan tercepat sejak Juli 2021. Kenaikan yang solid pada output sektor jasa maupun manufaktur menjadi penopang utama lonjakan angka tersebut.
"Untuk menempatkan lonjakan pertumbuhan ini dalam konteks yang tepat peningkatan aktivitas bisnis terkini merupakan yang terbesar yang tercatat sejak awal 2015. Bisnis saat ini jelas sedang berkembang pesat, baik di sektor manufaktur maupun jasa," ujar kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence Chris Williamson dalam sebuah pernyataan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Pada saat yang sama, S&P menyatakan bahwa tekanan harga di AS meningkat pada bulan September; rata-rata biaya input untuk barang dan jasa melonjak, dan tingkat inflasi secara keseluruhan mencapai titik tertinggi sejak Oktober 2022. Kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi menjadi faktor pendorong utamanya.
"Sementara itu, biaya input perusahaan melonjak pada bulan September dengan laju tercepat dalam empat tahun terakhir. Biaya bahan bakar dan transportasi melambung akibat kenaikan harga minyak selama bulan tersebut, yang akan semakin menambah tekanan kenaikan pada harga jual dan inflasi di bulan-bulan mendatang," tambah Williamson.
Kombinasi antara ekonomi yang kuat dan tekanan harga yang meningkat biasanya menjadi sinyal bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Alat pemantau CME FedWatch mencerminkan hal serupa; probabilitas Federal Open Market Committee (FOMC) akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan Oktober meningkat menjadi sekitar 68 persen, naik dari sekitar 55 persen pada hari sebelumnya.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), yang sebelumnya sudah berada di level tinggi menjelang rilis data S&P, kembali naik setelah laporan tersebut keluar. Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun tercatat naik 15,4 basis poin menjadi 5,102 persen, level yang belum pernah terlihat sejak Juli 2007.
Imbal hasil obligasi AS tenor 5 tahun melonjak 14,5 basis poin menjadi 4,987 persen, setelah sempat menembus angka lima persen untuk pertama kalinya sejak Juli 2007. Pada sisi jangka panjang kurva imbal hasil, obligasi tenor 30 tahun naik 9 basis poin menjadi 5,393 persen, sementara obligasi tenor 2 tahun naik 11,2 basis poin menjadi 4,889 persen.
Sentimen hawkish semakin diperkuat oleh komentar dari Gubernur The Fed Michael Barr, yang merupakan anggota dengan hak suara di FOMC. Barr mengatakan bahwa risiko terhadap pencapaian target inflasi jangka panjang bank sentral sebesar dua persen telah meningkat, sehingga mengharuskan The Fed untuk mengkalibrasi ulang kebijakan moneter.
Saham-saham teknologi terkoreksi
Di Wall Street, lonjakan imbal hasil (yield) berdampak negatif pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti teknologi dan perjalanan. Sektor teknologi S&P 500 ditutup turun 0,7 persen, sementara saham Expedia, Airbnb, dan Booking Holdings termasuk di antara saham dengan penurunan persentase terbesar dalam indeks S&P 500.Saham-saham teknologi sempat menguat dalam dua sesi perdagangan sebelumnya, yang membantu indeks NASDAQ Composite mencetak rekor penutupan tertinggi secara berturut-turut.
Kenaikan tersebut terjadi seiring bangkitnya kembali tren investasi terkait kecerdasan buatan (AI), yang sebagian didorong oleh lonjakan permintaan konsumen terhadap agen AI baru milik Meta Platforms, Muse. Mampu menjalankan tugas otonom yang melibatkan banyak tahapan secara otomatis di latar belakang untuk pengguna, Muse telah menjadi aplikasi gratis terpopuler di App Store milik Apple.
Sambutan hangat terhadap agen AI ini kemungkinan akan menjadi sorotan utama saat CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyampaikan pidato yang sangat dinanti-nantikan dalam konferensi perusahaan pada hari Rabu. Sejak peluncuran Muse pada 8 September, saham Meta telah melonjak lebih dari 20 persen, mengungguli kinerja perusahaan teknologi raksasa AS lainnya dalam periode tersebut serta menambah lebih dari USD200 miliar pada kapitalisasi pasar perusahaan pemilik Instagram itu.
Namun, kemunculan Muse juga memicu kembali kekhawatiran yang sempat muncul pada awal tahun 2026 mengenai potensi gangguan terhadap industri jasa keuangan. Muse telah menjalin kemitraan dengan berbagai pihak seperti PayPal dan platform fintech Plaid untuk memperkuat kehadirannya di sektor-sektor seperti pembayaran dan perencanaan keuangan.
Sektor keuangan S&P 500 merosot dua persen pada hari Selasa, tertekan oleh penurunan saham raksasa Wall Street seperti JPMorgan Chase dan Bank of America, serta perusahaan pialang seperti Raymond James dan Ameriprise Financial.