Dolar AS Menguat Tipis, Pasar Cermati Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Dolar AS. Foto: Marketplace.org

Dolar AS Menguat Tipis, Pasar Cermati Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Husen Miftahudin • 11 July 2026 09:07

New York: Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Jumat waktu setempat dan berpeluang membukukan kenaikan mingguan tipis. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan inflasi serta implikasinya terhadap prospek kebijakan moneter di tengah kembali menguatnya harga minyak.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 11 Juli 2026, indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,1 persen ke level 100,96. Secara mingguan, indeks tersebut juga menguat 0,1 persen.

Sementara mengutip Xinhua, pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1416 dari USD1,1434 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3398 dari USD1,3416.

Dolar AS diperdagangkan pada level 161,69 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan 162,34 yen pada sesi sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar AS menguat menjadi 0,8085 franc Swiss dari 0,8066 franc Swiss.

Dolar AS juga melemah terhadap dolar Kanada menjadi 1,4152 dolar Kanada dari 1,4167 dolar Kanada pada perdagangan sebelumnya. Sebaliknya, dolar menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,6638 dari 9,6602.
 

 

Pasar mencermati prospek suku bunga Fed


Pergerakan dolar AS sepanjang pekan dipengaruhi tarik-menarik antara ekspektasi kebijakan suku bunga dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Pelaku pasar valuta asing masih mengukur dampak meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran terhadap prospek inflasi serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni yang dirilis awal pekan ini menunjukkan perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan terkait prospek suku bunga. 

Bersamaan dengan laporan kebijakan moneter yang disampaikan kepada Kongres pada Jumat, The Fed juga menyoroti kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah, meningkatnya permintaan semikonduktor untuk teknologi kecerdasan buatan (AI), serta tarif perdagangan.

Perhatian investor kini beralih pada rilis data inflasi utama Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan depan. Laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) periode Juni akan dipublikasikan pada Selasa, disusul Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Rabu.

Kenaikan tahunan CPI dan PPI pada Mei tercatat sebagai yang tertinggi sejak April 2023 dan November 2022. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi lonjakan harga minyak akibat konflik Iran. Namun, perubahan dinamika harga minyak dalam beberapa pekan terakhir membuat sejumlah analis menilai inflasi Mei kemungkinan menjadi titik tertinggi.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Ketegangan AS-Iran masih bayangi pasar


Sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul laporan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorikanya dengan menyatakan gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Namun, pada Rabu, Trump juga menyebut Iran telah menghubungi Amerika Serikat untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan baru.

"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan 'perundingan.' Kami telah menyetujuinya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan tegas, bahwa gencatan senjata telah berakhir!" tulis Donald melalui Truth Social.

Di sisi lain, Oman dan Pakistan sebagai mediator utama antara AS dan Iran kembali menyerukan deeskalasi serta mendorong dimulainya kembali proses negosiasi. Pelaku pasar menilai pernyataan Trump dan langkah diplomasi kedua negara tersebut menjadi sinyal Washington maupun Teheran masih berupaya menghindari konflik yang lebih luas.

(Husen Miftahudin)