BNPT Ungkap Pergeseran Pola Terorisme, Remaja Jadi Target di Ruang Digital

Kelompok Ahli BNPT Bidang Kerja Sama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala. Foto: Metrotvnews.com/Kautsar Widya Prabowo.

BNPT Ungkap Pergeseran Pola Terorisme, Remaja Jadi Target di Ruang Digital

Kautsar Widya Prabowo • 31 December 2025 17:42

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperingatkan adanya perubahan signifikan dalam pola rekrutmen jaringan terorisme di Indonesia. Ruang digital kini menjadi medan utama bagi kelompok radikal untuk mencuci otak generasi muda, mulai dari remaja hingga anak-anak.

“Cara rekrutmen tidak hanya melalui tatap muka, tetapi sudah melalui ruang digital. Jika dulu hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang dijadikan sasaran, sekarang menyasar remaja dan anak,” ujar Kelompok Ahli BNPT Bidang Kerja Sama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala, dalam keterangan tertulis, Rabu, 31 Desember 2025.
 



Darmansjah menjelaskan bahwa proses pencarian jati diri yang dialami remaja membuat mereka menjadi kelompok paling rentan. Media sosial hingga gim daring (game online) disalahgunakan untuk menyebarkan konten kekerasan. Termasuk tutorial pembuatan bahan peledak yang dapat diakses dengan bebas.

Fenomena ini bukan sekadar ancaman di atas kertas. Berdasarkan data tahun 2025, Densus 88 Antiteror Polri mencatat telah memeriksa sedikitnya 112 anak yang terpapar radikalisasi melalui platform digital. Para korban ini terdeteksi tersebar di 26 provinsi di seluruh Indonesia.

Kondisi ini diperparah dengan temuan kasus nyata, seperti keterlibatan seorang siswa SMA dalam aksi pengeboman di Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Hal ini membuktikan bahwa doktrin radikal telah berhasil menembus benteng pertahanan keluarga melalui gawai.

“Ruang digital sudah tidak ramah lagi bagi anak dan remaja. Konten kekerasan, bahkan cara-cara membuat peledak, dapat dengan mudah diakses,” tegas Darmansjah.


Ilustrasi terorisme. Foto: Dok. Medcom.id.

Sebagai langkah antisipasi, BNPT mendorong agar isu pencegahan kekerasan oleh remaja dan anak melalui ruang digital menjadi agenda prioritas dalam kerja sama internasional. Penguatan literasi digital dan pengawasan orang tua dianggap menjadi kunci utama dalam memutus rantai rekrutmen teroris di masa depan.

“Setiap kerja sama di bidang penanggulangan terorisme, baik bilateral, regional, maupun multilateral, perlu memasukkan isu pencegahan kekerasan oleh remaja dan anak melalui ruang digital sebagai program prioritas,” ujar Darmansjah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)