Salah seorang pelajar Indonesia, Ahmad Hukam yang baru tiba dari Iran. Foto: Metro TV/Athiyya Nurul Firjatillah
Konflik Iran Hentikan Aktivitas Akademik di Tehran
Athiyya Nurul Firjatillah • 10 March 2026 23:31
Jakarta: Konflik di Iran mulai berdampak pada sektor pendidikan. Sejumlah institusi pendidikan di Tehran menghentikan kegiatan belajar mengajar, sehingga para pelajar, termasuk warga negara Indonesia (WNI) terpaksa menghentikan sementara aktivitas akademik mereka.
Salah seorang pelajar Indonesia di Iran, Ahmad Hukam, mengatakan kegiatan perkuliahan diliburkan sejak awal Ramadan akibat situasi keamanan yang tidak menentu. Hal itu disampaikan Ahmad Hukam saat tiba di area kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, 10 Maret 2026.
“Kondisi terakhir diliburkan, mulai dari 2 Ramadan. Dari tanggal 2 Ramadan itu sudah mulai libur sampai mungkin waktunya tidak bisa ditentukan, karena memang berita terakhir yang saya ketahui itu ada serangan lanjutan,” kata Hukam saat ditemui di Bandara Soetta, Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Hukam, kondisi keamanan di sekitar Ibu Kota Tehran masih berubah-ubah. Sehingga, aktivitas akademik belum dapat kembali berjalan normal.
“Serangannya masih dinamis, masih fleksibel,” ujar Hukam.
Baca Juga :
WNI Ungkap Serangan di Iran Dekat KBRI Tehran
“Untuk bahan sembako itu masih terbilang cukup aman. Karena seperti toko kelontong, kemudian warung-warung itu masih buka,” ujar Hukam.
Namun demikian, ia mengakui situasi konflik turut memengaruhi stabilitas ekonomi di Iran, termasuk harga sejumlah kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan. Di tengah situasi tersebut, para pelajar Indonesia di Iran terus memantau perkembangan kondisi keamanan sambil menunggu kepastian dari institusi pendidikan terkait kelanjutan aktivitas akademik. Hukam mengaku masih berkomunikasi dengan sesama pelajar Indonesia di Iran untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi di Tehran.
“Saya di situasi saat ini masih berkomunikasi dengan ketum Perhimpunan Pelajar Indonesia di Iran. Memang situasi di sana saya masih berkomunikasi. Meskipun komunikasinya terbatas. Dan insya Allah akan update terus informasi perkembangan di kota Tehran. Karena kampus saya di kota Tehran,” ungkap Hukam.
Selain itu, ia menyebut komunikasi dengan keluarga di Indonesia sempat mengalami kendala akibat keterbatasan jaringan internet di Iran.
Sementara itu, pemerintah Indonesia terus memantau kondisi warga negara Indonesia di Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri memfasilitasi proses repatriasi bagi WNI yang ingin kembali ke Tanah Air.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyambut kedaangan WNI dari Iran. Foto: Metro TV/Athiyya Nurul Firjatillah
Pemulangan WNI dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan situasi keamanan serta ketersediaan jalur evakuasi yang memungkinkan. Para WNI terlebih dahulu diarahkan menuju titik pertemuan yang ditentukan oleh perwakilan Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan menuju Indonesia.
Kementerian Luar Negeri mencatat terdapat 329 WNI yang berada di Iran. Sebagian besar di antaranya merupakan pelajar yang menempuh pendidikan di sejumlah institusi pendidikan, terutama di kota Qom.
Sebanyak 22 WNI telah tiba di tanah air pada proses evakuasi tahap pertama hari ini. Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut, masih terdapat 10 WNI yang akan tiba pada esok hari, Rabu 11 Maret 2026 sebagai rangkaian proses repatriasi.
Upaya repatriasi dilakukan imbas serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menyasar Tehran pada 28 Februari 2026 dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Insiden itu membuat situasi di Iran semakin memanas.