Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka Naik ke Rp18.024/USD
Eko Nordiansyah • 20 October 2026 09:15
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan. Rupiah kembali menguat meski dolar AS juga meningkat didorong pelemahan euro dan aksi jual di pasar obligasi.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 20 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp18.024 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 22 poin atau setara 0,12 persen dari Rp18.046 per USD pada penutupan perdagangan kemarin.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.943 per USD. Rupiah bergerak stagnan dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin.
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp18.040-Rp18.090 per USD.Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi potensi pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut. Pernyataan terkini dari para pejabat The Fed mengisyaratkan mereka tetap terbuka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum ada sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober.
Selain itu, risiko inflasi diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan tingginya kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus meningkat.
"Di tengah situasi ini, para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun," ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, wacana reklasifikasi bursa Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone Market serta lonjakan harga minyak hingga USD110 per barel memicu aksi hindar risiko para investor. Namun upaya dari otoritas bursa diharapkan mampu meredam volatilitas dan ketidakpercayaan dalam jangka pendek.
"Guna menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia diproyeksikan berpeluang mengerek suku bunga acuan BI-Rate hingga level 6 persen pada Rapat Dewan Gubernur Oktober ini," kata dia.