Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Lanjutkan Tren Menguat ke Rp16.786 per USD
Eko Nordiansyah • 11 February 2026 16:32
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah mampu menjaga penguatan yang sudah didapatkan terhadap dolar AS sejak pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 11 Februri 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.786 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat sebanyak 25 poin atau setara 0,15 persen dari posisi Rp16.811 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.780 per USD. Rupiah menguat 14 poin atau setara 0,08 persen dari Rp16.794 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.781 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.799 per USD.
Ketegangan AS-Iran berlanjut
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Departemen Transportasi AS, melalui Administrasi Maritim, yang menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman."Badan tersebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran," ungkap Ibrahim.
Peringatan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas ketegangan antara AS dan Iran yang tetap tinggi, bahkan ketika kedua negara mencatat kemajuan selama pembicaraan akhir pekan baru-baru ini dan berjanji untuk terlibat dalam lebih banyak diskusi tentang program nuklir Teheran.
Namun Iran juga sebagian besar menolak seruan untuk menghentikan pengayaan nuklirnya, sebuah poin utama perselisihan bagi Washington.
Di sisi lain, fokus investor minggu ini ada pada data ekonomi dari konsumen minyak terbesar di dunia, dengan data tersebut diharapkan akan memengaruhi prospek permintaan. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data inflasi indeks harga konsumen akan dirilis pada Jumat.
"Data-data tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di Federal Reserve," papar Ibrahim.
(1).jpeg)