Dolar AS Bakal Kembali Perkasa di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Dolar AS. Foto: dok MI.

Dolar AS Bakal Kembali Perkasa di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Husen Miftahudin • 23 March 2026 10:19

Tokyo: Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan pulih pada perdagangan Senin karena ancaman pembalasan yang meningkat dalam krisis Timur Tengah. Kondisi ini meredam sentimen risiko dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven.

Mengutip Investing.com, Senin, 23 Maret 2026, dolar AS pada perdagangan Jumat (20/3) menutup penurunan mingguan pertamanya sejak dimulainya perang di Iran, karena dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi mendorong bank sentral untuk bersikap lebih agresif. Dolar Australia merosot di awal perdagangan karena pasar saham diperkirakan akan dibuka lebih rendah.

Harapan untuk meredakan permusuhan di kawasan Teluk meredup selama akhir pekan, dengan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran dan Teheran bersumpah akan membalas dengan menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangganya.   

"Pasar cenderung beranggapan bahwa negara dan ekonomi yang menikmati lonjakan pasokan positif dari sektor energi kemungkinan akan berkinerja lebih baik daripada negara dan ekonomi yang menderita lonjakan pasokan negatif," kata Rodrigo Catril, seorang ahli strategi mata uang di National Australia Bank, dalam sebuah podcast.

"Jadi, Anda melihat euro dan yen kesulitan berkinerja. Dan sekali lagi, jika konflik ini terbukti berkepanjangan, Anda akan berpikir bahwa mata uang itulah yang kemungkinan akan lebih menderita," tambah dia.

Adapun indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,03 persen menjadi 99,53. Sementara euro turun 0,06 persen menjadi USD1,1563. Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,06 persen menjadi 159,11 per dolar, dan poundsterling melemah 0,06 persen menjadi USD1,3331.
 

Baca juga: Dolar AS Stabil Meski Catat Penurunan Mingguan


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Trump ancam 'hancurkan' jaringan listrik Iran


Trump mengeluarkan ancaman terbarunya kepada Iran pada Sabtu malam, kurang dari sehari setelah memberi sinyal AS mungkin mempertimbangkan untuk mengakhiri konflik tersebut. Iran berjanji akan melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur di negara-negara tetangga dan jalur pelayaran Selat Hormuz untuk minyak akan tetap ditutup.

Kemungkinan serangan balasan terhadap infrastruktur sipil di kawasan itu mengancam mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada pabrik desalinasi untuk air. Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel sejak Minggu dini hari, memperingatkan akan datangnya rudal dari Iran.

Sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari, para investor memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Namun, mereka sekarang sebagian besar percaya bahwa satu pemangkasan suku bunga adalah prospek yang jauh, dan bank sentral utama lainnya semakin bersikap hawkish.

The Fed mempertahankan suku bunga tetap seperti yang diperkirakan pekan lalu, tetapi Ketua Jerome Powell mengatakan masih terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi dampak ekonomi dari perang tersebut.

Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga tetap pada Kamis, tetapi memperingatkan inflasi yang dipicu oleh harga energi. Bank of England juga mempertahankan suku bunga tetap, sementara Bank of Japan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga paling cepat pada April.

Sementara itu, kontrak berjangka ekuitas mengindikasikan penurunan tajam pada indeks Nikkei Jepang, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir delapan bulan di angka 4,4055 persen.

Dolar Australia melemah 0,17 persen terhadap dolar AS menjadi USD0,7011. Mata uang kiwi Selandia Baru juga sedikit turun 0,03 persen menjadi USD0,5832.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)