Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ambles Semakin Dalam ke Rp16.876,5 per USD Sore Ini
Eko Nordiansyah • 13 January 2026 16:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Mata uang Garuda sudah melemah terhadap dolar AS sejak pembukaan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 13 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.876,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 22 poin atau setara 0,13 persen dari posisi Rp16.855 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.860 per USD. Rupiah melemah 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp16.848 per USD di pembukaan perdagangan hari ini.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.875 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.853 per USD.
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Pasar pantau gejolak di Iran
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang tengah memantau peningkatan gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang.
Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas.
Selain itu, ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat, sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral.
Data ekonomi juga memainkan peran kunci dalam mengangkat harga emas batangan. Pada Jumat, data Pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50 ribu pekerjaan pada Desember, meleset dari ekspektasi kenaikan 66 ribu, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,4 persen, di bawah perkiraan 4,5 persen.
"Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada 2026," papar Ibrahim.