Ulama Buya Yahya menyampaikan tanggapan menjelang agenda Silaturahmi dan Buka Puasa bersama Presiden Prabowo Subianto. Foto: ANTARA/HO-Pri.
Iftar Istana, Ulama Titip Pesan Perdamaian Dunia ke Presiden
Fachri Audhia Hafiez • 5 March 2026 22:53
Jakarta: Sejumlah ulama dan tokoh lintas organisasi Islam memanfaatkan momentum buka puasa bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan untuk menyampaikan aspirasi dan doa. Di tengah suasana hangat Ramadan, para tokoh agama menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari hambatan ibadah umrah akibat gejolak di Timur Tengah hingga efektivitas peran diplomatik Indonesia di kancah internasional.
"Saya membawa jamaah umrah, kita lagi fokus jamaah yang tidak bisa berangkat, termasuk tiket Emirate saya yang sampai sekarang belum bisa terbang," ujar pendakwah kondang Ustaz Muhammad Subki Al Bughury di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 5 Maret 2026.
Ustaz Subki mengungkapkan bahwa ketidakpastian penerbangan internasional akibat eskalasi di Timur Tengah telah menghambat keberangkatan maupun kepulangan jamaah ke Tanah Air. Di bulan suci ini, ia menekankan pentingnya kekuatan doa sebagai senjata utama umat agar situasi global segera membaik.
Senada dengan hal tersebut, pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, menilai Ramadan harus menjadi momentum untuk menghadirkan kedamaian. Ia secara khusus mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan spiritual kepada jajaran pemerintah, mengingat besarnya tanggung jawab dalam memimpin negara di tengah situasi dunia yang penuh gejolak.
"Yang penting itu doa, karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak doakan pemimpin kita, bagaimana mereka sukses dengan tugas-tugasnya," kata Buya Yahya.

Presiden Prabowo Subianto duduk semeja bersama pimpinan PBNU, Muhammadiyah, dan MUI saat buka puasa bersama ormas Islam di Istana Negara, Jakarta. Dok. Instagram Prabowo.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Pusat, Habib Nabiel Al Musawa, membawa masukan yang lebih spesifik terkait posisi geopolitik Indonesia. Ia menyoroti dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta memberikan pandangan kritis mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).
"Kalau menurut kami, keberadaan BoP kurang efektif. Jadi, mungkin Presiden perlu meninjau ulang, kalau bisa mengundurkan diri lebih bagus," tegas Habib Nabiel.
Habib Nabiel meyakini bahwa Presiden Prabowo senantiasa terbuka untuk mendengar masukan dari para tokoh agama, terutama yang berkaitan dengan perlindungan umat dan stabilitas global. Pertemuan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga kedamaian bangsa serta merespons dinamika internasional secara tepat.