Wall Street Melemah, Nasdaq Paling Boncos

Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Wall Street Melemah, Nasdaq Paling Boncos

Husen Miftahudin • 15 September 2026 08:03

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin waktu setempat. Tekanan pasar muncul setelah sejumlah eksekutif perusahaan kecerdasan buatan (AI) menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut di tengah meningkatnya perhatian terhadap risiko keamanan.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 15 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 152,09 poin atau 0,29 persen menjadi 52.421,20. S&P 500 melemah 37 poin atau 0,48 persen menjadi 7.619,98. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 146,62 poin atau 0,56 persen ke level 26.186,41.
 
Tekanan terjadi di sebagian besar sektor utama S&P 500. Sebanyak delapan dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor teknologi mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,67 persen, diikuti sektor industri yang turun 1,44 persen.
 
Sebaliknya, sektor jasa komunikasi dan kesehatan mencatat kinerja positif. Masing-masing sektor menguat 2,79 persen dan 1,35 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan paling besar terjadi pada saham-saham teknologi seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai arah pengembangan AI.
 
Tekanan jual terhadap saham teknologi menguat setelah CEO Anthropic Dario Amodei menerbitkan esai pada akhir pekan lalu. Dalam tulisannya, Amodei mendorong pengembang AI untuk memperlambat pengembangan model guna menghadapi risiko keamanan yang muncul.
 
Pandangan tersebut kemudian mendapat dukungan terbuka dari CEO OpenAI Sam Altman. Sikap kedua pemimpin perusahaan AI tersebut berseberangan dengan ekspektasi investor di Wall Street yang selama ini mengandalkan percepatan komersialisasi AI dan besarnya investasi modal di sektor tersebut.
 
Perdebatan mengenai keamanan AI juga turut memengaruhi ekspektasi terhadap agenda perusahaan teknologi untuk melantai di bursa. Altman mengonfirmasi OpenAI menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) yang sebelumnya diantisipasi hingga 2027. Sementara itu, Anthropic dilaporkan masih sesuai jadwal untuk melakukan debut di Nasdaq pada musim gugur.
 



(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Imbal hasil surat utang AS melejit

 
Sentimen negatif di pasar saham juga diperkuat kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS dan harga energi. Imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun naik menjadi 5,38 persen. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve.
 
Di pasar komoditas, harga minyak mentah global kembali menguat. Kenaikan terjadi setelah Arab Saudi menutup jalur pipa strategis di tengah meluasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
 
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik USD1,07 atau 1,02 persen menjadi USD105,68 per barel di Bursa Berjangka ICE London.
 
Kombinasi kenaikan harga energi, gejolak pasar obligasi, dan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang tinggi pada Jumat sebelumnya turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
 
Berdasarkan penetapan harga di pasar keuangan, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 88 persen untuk kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada Rabu mendatang.
 
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan pendiriannya untuk tidak memberikan panduan kebijakan moneter secara eksplisit ke depan.

(Husen Miftahudin)