Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id
Wall Street Menguat di Tengah Gejolak Pasar Obligasi AS
Husen Miftahudin • 26 September 2026 08:22
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah mampu melewati gejolak pada awal sesi. Penguatan pasar turut ditopang penurunan harga minyak, sementara tekanan jual pada obligasi Treasury AS mulai mereda, terutama pada surat utang berjangka pendek.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 26 September 2026, indeks S&P 500 naik 0,5 persen dan ditutup pada level 7.741,83. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga menguat 0,5 persen menjadi 27.068,72. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average yang mencerminkan pergerakan saham-saham unggulan naik 0,9 persen ke level 51.828,59.
Perdagangan saham AS sepanjang pekan berlangsung bergejolak. Pelaku pasar mencermati reli di sektor kecerdasan buatan (AI), perkembangan geopolitik, meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta tekanan di pasar obligasi.
Meski menghadapi sejumlah tekanan tersebut, ketiga indeks utama Wall Street tetap membukukan kenaikan secara mingguan. Sepanjang pekan, S&P 500 menguat 1,2 persen, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 2,1 persen. Dow Jones juga mencatat kenaikan 0,3 persen.
Reli saham AI dorong penguatan Wall Street
Pergerakan positif di awal pekan turut didorong kembali menguatnya perdagangan saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan. Minat terhadap sektor tersebut antara lain meningkat seiring perhatian pasar terhadap agen AI pribadi baru milik Meta Platforms, Muse.
Saham Meta Platforms tercatat melonjak lebih dari 30 persen sepanjang September dan hampir 14 persen dalam sepekan. Meta secara resmi meluncurkan Muse pada 8 September. Sejak peluncuran tersebut, agen AI itu disebut menjadi salah satu aplikasi gratis yang banyak diminati konsumen dan menempati posisi teratas di App Store Apple.
Di tengah ketahanan pasar saham, aksi jual besar-besaran terhadap obligasi Treasury AS sepanjang pekan menjadi perhatian pelaku pasar. Tekanan terutama terjadi pada obligasi berjangka panjang.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2007. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2004. Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan penurunan harga obligasi di pasar.
Tekanan terhadap obligasi dipengaruhi sejumlah kekhawatiran, mulai dari risiko inflasi yang berkaitan dengan sektor energi, kekhawatiran terhadap besarnya utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI, hingga penyesuaian ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang lebih ketat.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Pasar cermati kebijakan suku bunga The Fed
Pekan sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberikan sinyal pengetatan kebijakan lanjutan pada tahun ini.
Sejumlah pejabat The Fed kemudian menyampaikan pandangan yang lebih agresif terkait kebijakan moneter setelah kenaikan suku bunga tersebut.
Pejabat yang disebut antara lain Gubernur Michael Barr dan Presiden Federal Reserve Philadelphia Anna Paulson, yang merupakan anggota tetap Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Berdasarkan CME FedWatch, peluang FOMC menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober berada di sekitar 64 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 58 persen pada pekan sebelumnya.