Harga Emas Diprediksi Masih Melemah, Ini yang Perlu Dicermati

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Diprediksi Masih Melemah, Ini yang Perlu Dicermati

Eko Nordiansyah • 2 June 2026 10:55

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish yang cukup kuat. Tekanan jual yang mendominasi pasar membuat peluang penurunan harga emas masih terbuka dalam jangka pendek.

Secara teknikal, analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, harga emas hingga saat ini belum mampu kembali bergerak di atas indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Dalam analisis teknikal, kedua indikator tersebut sering digunakan untuk melihat arah tren utama pasar.

"Ketika harga bergerak di bawah MA 21 dan MA 50, kondisi tersebut umumnya mengindikasikan tren turun masih mendominasi dan belum ada tanda kuat yang menunjukkan perubahan arah pergerakan," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Geraldo, kegagalan harga emas untuk menembus area tersebut menunjukkan minat beli di pasar masih relatif terbatas. Di sisi lain, tekanan jual masih cukup kuat, sehingga membuat pergerakan harga cenderung bergerak dalam jalur penurunan.

Selama harga masih berada di bawah area MA 21 dan MA 50, skenario pelemahan masih menjadi fokus utama. Dengan kondisi tersebut, XAU/USD berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support terdekat di kisaran USD4.365. Jika tekanan jual terus berlanjut, maka target penurunan berikutnya berada di area USD4.306.

Ia mengungkapkan, area support tersebut menjadi level penting yang akan diperhatikan oleh pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan. Apabila harga berhasil bertahan di area tersebut, maka peluang terjadinya rebound atau pemantulan harga bisa muncul.

"Namun sebaliknya, jika tekanan jual tetap kuat, maka risiko pelemahan yang lebih dalam masih perlu diwaspadai," ujar dia.



(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Sentimen fundamental kurang mendukung

Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas saat ini juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental yang masih kurang mendukung. Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih bertahan dalam beberapa waktu terakhir.

"Ketika dolar AS menguat, harga emas biasanya menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut seringkali mengurangi permintaan terhadap emas dan memberikan tekanan pada harga," kata dia.

Tak hanya itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield juga menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan emas. Dalam situasi seperti sekarang, banyak investor lebih memilih instrumen yang mampu memberikan imbal hasil tetap dibandingkan emas yang tidak menawarkan bunga atau yield.

"Sebagai aset non-yielding, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tekanan terhadap harga emas masih cukup besar dalam beberapa pekan terakhir," ujar dia.

Kebijakan The Fed masih dinanti

Di sisi lain, pasar juga masih menunggu arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya. Hingga saat ini, sebagian pelaku pasar masih menilai bank sentral Amerika Serikat belum memiliki alasan kuat untuk segera memangkas suku bunga secara agresif.

Selama data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang baik, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi tetap bertahan. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi dolar AS, namun kurang menguntungkan bagi harga emas.

Selain faktor suku bunga, minat terhadap aset safe haven juga terlihat mulai berkurang seiring membaiknya sentimen pasar global. Ketika investor merasa lebih optimistis terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan, dana investasi biasanya mengalir ke aset yang dianggap memiliki potensi keuntungan lebih tinggi dibandingkan emas.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental saat ini masih menunjukkan tekanan bearish pada harga emas belum sepenuhnya mereda. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas MA 21 dan MA 50, peluang pelemahan menuju area support USD4.365 hingga USD4.306 masih cukup terbuka.

Oleh karena itu, Geraldo menyarankan, investor dan trader untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS yang dapat menjadi faktor penentu arah harga emas dalam waktu dekat.

"Meski peluang koreksi masih mendominasi, perubahan sentimen pasar sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi pada pergerakan emas global," ungkap dia.

(Eko Nordiansyah)