Harga Emas Dunia Bangkit di Akhir Juli, Curi Momentum saat Dolar Tergelincir

Ilustrasi emas batangan. Foto: Goldbulliondealers.co.uk

Harga Emas Dunia Bangkit di Akhir Juli, Curi Momentum saat Dolar Tergelincir

Husen Miftahudin • 1 August 2026 11:40

Chicago: Harga emas dunia mencatat kenaikan pada Juli 2026 setelah mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut. Penguatan logam mulia tersebut ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuannya.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 1 Agustus 2026, harga emas spot pada perdagangan Jumat turun 1,5 persen menjadi USD4.044,61 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 1,5 persen ke USD4.098,60 per troy ons.

Meski terkoreksi pada akhir pekan, secara bulanan harga emas masih mencatat kinerja positif. Sepanjang Juli, harga emas spot naik 0,9 persen, sedangkan emas berjangka menguat 1,5 persen, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama empat bulan berturut-turut.
 

 

Pelemahan dolar jadi penopang harga emas


Kenaikan harga emas didukung melemahnya dolar AS yang turun lebih dari satu persen sepanjang Juli. Pelemahan mata uang AS membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut sebagai aset investasi.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan pada Juli. Penurunan terlihat pada indeks harga konsumen (CPI), indeks harga produsen (PPI), dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi acuan Federal Reserve.

Namun, kenaikan kembali harga minyak dunia sepanjang Juli memunculkan kekhawatiran tekanan inflasi dapat meningkat lagi sehingga menciptakan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter.

Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini. Meski demikian, tiga pejabat Federal Reserve, yakni Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, menyampaikan pendapat berbeda dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar menanti langkah Fed selanjutnya


Kepala Ekonom AS JPMorgan Michael Feroli menilai komunikasi Ketua Federal Reserve Kevin Warsh belum memberikan kepastian mengenai strategi bank sentral dalam mengendalikan inflasi.

"Ia kembali gagal menjelaskan bagaimana akan mencapai target penurunan inflasi. Hal itu menimbulkan pertanyaan mengenai kredibilitas kepemimpinan The Fed dalam menjaga inflasi tetap rendah," ujar Feroli.

Feroli menambahkan JPMorgan kini memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya dapat terjadi lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Menurut dia, apabila tekanan inflasi kembali meningkat dalam waktu dekat, peluang kenaikan suku bunga pada September tetap terbuka.

(Husen Miftahudin)