Dolar AS. Foto: Xinhuanet.
Dolar AS Turun 1,3%, Pasar Soroti Kebijakan The Fed
Husen Miftahudin • 1 August 2026 11:32
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pelemahan lebih dari satu persen sepanjang Juli 2026. Penurunan tersebut menjadi kinerja bulanan terburuk sejak April, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dalam mengendalikan inflasi.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 1 Agustus 2026, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, ditutup di level 99,83 atau turun 1,3 persen sepanjang Juli.
Sebagian besar pelemahan terjadi pada pekan terakhir Juli seiring meningkatnya aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat yang mencerminkan kegelisahan investor terhadap prospek suku bunga.
Data inflasi dan sikap The Fed jadi sorotan
Pasar mencermati sejumlah indikator inflasi AS yang menunjukkan perlambatan selama Juli. Penurunan terlihat pada indeks harga konsumen (CPI), indeks harga produsen (PPI), serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi acuan utama Federal Reserve.
Namun, perlambatan tersebut dinilai belum memberikan kepastian terhadap arah inflasi ke depan. Kenaikan kembali harga minyak dunia sepanjang Juli memunculkan risiko tekanan inflasi baru sehingga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.
Federal Open Market Committee (FOMC) memang mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini. Meski demikian, tiga pejabat Federal Reserve, yakni Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, memberikan suara berbeda dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Yen menguat dipicu intervensi Jepang
Di pasar valuta asing Asia, yen Jepang menguat signifikan terhadap dolar AS untuk hari kedua berturut-turut. Penguatan tersebut terjadi di tengah dugaan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing setelah yen sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS.
Sementara itu, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 1 persen. Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 8-1, dengan satu anggota dewan mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Selain itu, BoJ memangkas proyeksi inflasi inti dan sedikit menaikkan prospek pertumbuhan ekonomi Jepang tahun ini.
Mata uang utama lainnya juga mencatat penguatan terhadap dolar AS. Euro naik tipis 0,1 persen menjadi USD1,1537 dan menguat sekitar 1 persen sepanjang Juli. Penguatan ditopang data inflasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan euro yang lebih baik dari perkiraan.
Sementara itu, poundsterling menguat 0,1 persen menjadi USD1,3484 serta mencatat kenaikan sekitar 1,7 persen selama Juli. Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan bank-bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB), setelah muncul sinyal tekanan inflasi yang kembali meningkat akibat kenaikan harga energi.