Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Digilas 6 Mata Uang Utama Dunia, Ini Penyebabnya
Husen Miftahudin • 31 July 2026 08:51
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat. Pelemahan dipicu sikap skeptis pelaku pasar terhadap pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengenai prospek kebijakan moneter dan upaya pengendalian inflasi.
Mengutip Xinhua, indeks dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 1,01 persen menjadi 99,868.
Pada perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1535 dari USD1,1452 pada sesi sebelumnya. Poundsterling juga naik ke USD1,3476 dari USD1,3364, setelah Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar.
Di sisi lain, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Nilai tukar dolar terhadap yen Jepang turun menjadi 158,93 yen dari 163,32 yen. Dolar juga melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,8040 franc dari 0,8149 franc.
Terhadap dolar Kanada, mata uang AS turun menjadi 1,3996 dolar Kanada dari 1,4040 dolar Kanada, sedangkan terhadap krona Swedia melemah menjadi 9,5189 krona dari 9,6434 krona.
Pasar cermati sikap The Fed
Pelaku pasar masih mencerna keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu, 29 Juli 2026. Namun, perhatian investor lebih banyak tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh setelah pengumuman kebijakan tersebut.
Meski keputusan mempertahankan suku bunga telah diperkirakan pasar, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga di masa mendatang seiring dinamika inflasi yang dipengaruhi volatilitas harga minyak.
Dalam rapat tersebut, Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan memilih mendukung kenaikan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin.
Dalam konferensi pers, Warsh mengatakan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menggelar diskusi intensif mengenai sejumlah isu utama, termasuk inflasi yang masih bertahan, guncangan ekonomi terbaru, tekanan harga, serta instrumen kebijakan moneter.
Ia juga menyebut perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral tidak sepenuhnya mencerminkan keseluruhan pembahasan dalam rapat. Menurut Warsh, data inflasi Juni yang lebih lemah juga tidak menjadi faktor dominan dalam pengambilan keputusan suku bunga.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Imbal hasil obligasi beragam
Warsh juga menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sejak pertemuan Federal Reserve sebelumnya. Menurutnya, kenaikan tersebut merupakan salah satu yang paling signifikan dalam dua dekade terakhir.
Pada perdagangan Kamis, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari empat basis poin menjadi 4,666 persen, sedangkan yield obligasi tenor dua tahun turun tipis menjadi 4,234 persen.
Warsh menilai kenaikan yield mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan data ekonomi terkini. Ia juga menyebut penghentian kebijakan forward guidance oleh The Fed berpotensi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar obligasi.