Ilustrasi grafik ekonomi AS. Foto: OCBC NISP.
Data Inflasi AS Stabil di 2,4%, Pasar Kripto Cermati Arah Kebijakan The Fed
Husen Miftahudin • 13 March 2026 06:50
Jakarta: Inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat stabil pada 2,4 persen (yoy) pada Februari 2026 berdasarkan data Consumer Price Index (CPI) yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali.
Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta sentimen di pasar aset berisiko, termasuk kripto.
Selain itu, menurut dia, kondisi ini juga menandakan pelaku pasar saat ini masih berada dalam fase menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS, khususnya langkah suku bunga Federal Reserve.
"Angka inflasi Februari 2026 yang berada di 2,4 persen sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor cenderung lebih stabil. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya akan lebih fokus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed karena kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko termasuk kripto," ungkap Antony dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Maret 2026.
"Untuk saat ini, pasar cenderung berada dalam fase menunggu sambil memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya," jelas Antony menambahkan.
Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta sentimen di pasar aset berisiko, termasuk kripto.
Selain itu, menurut dia, kondisi ini juga menandakan pelaku pasar saat ini masih berada dalam fase menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS, khususnya langkah suku bunga Federal Reserve.
"Angka inflasi Februari 2026 yang berada di 2,4 persen sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor cenderung lebih stabil. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya akan lebih fokus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed karena kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko termasuk kripto," ungkap Antony dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Maret 2026.
"Untuk saat ini, pasar cenderung berada dalam fase menunggu sambil memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya," jelas Antony menambahkan.
| Baca juga: Fatwa Muhammadiyah soal Kripto: Sah untuk Investasi, Edukasi Investor Terus Digenjot |
Tekanan harga di AS relatif terkendali
Berdasarkan laporan terbaru, inflasi bulanan AS pada Februari tercatat naik 0,3 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2 persen pada Januari. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan, sesuai dengan proyeksi analis.
Stabilnya angka inflasi ini memperkuat pandangan tekanan harga di ekonomi AS masih relatif terkendali, meskipun tetap berada di atas target inflasi dua persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve.
Ekspektasi kebijakan moneter tersebut juga tercermin dalam proyeksi pasar yang dihimpun melalui CME FedWatch Tool, yang menunjukkan peluang hampir 99 persen Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret.
Sementara itu, probabilitas pemotongan suku bunga sekitar 25 basis poin pada April diperkirakan masih relatif kecil, yakni sekitar 11 persen. Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak lebih defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya.

(Ilustrasi pergerakan harga aset kripto. Foto: dok KBI)
Bitcoin bergerak moderat di kisaran USD69 ribu
Di pasar kripto, respons investor terhadap rilis data inflasi terlihat relatif terbatas. Setelah laporan dirilis, bitcoin diperdagangkan di kisaran USD69 ribu dengan pergerakan yang relatif moderat dalam 24 jam terakhir. Hal ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya serta arah kebijakan moneter global.
Selain faktor inflasi, dinamika geopolitik dan harga energi juga menjadi perhatian investor. Dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak meningkat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pergerakan harga energi ini berpotensi mempengaruhi tekanan inflasi pada periode berikutnya, serta berdampak pada aktivitas ekonomi secara lebih luas. Oleh karena itu, investor cenderung mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.
Sejalan dengan itu, Indodax turut mengimbau para investor untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri (DYOR), serta mempertimbangkan strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) untuk menghadapi volatilitas pasar kripto.
"Melalui berbagai inisiatif edukasi, Indodax terus mendorong peningkatan literasi aset kripto di Indonesia sekaligus menyediakan platform perdagangan yang aman dan transparan bagi seluruh pengguna," tegas Antony.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com