Rupiah Selasa Menguat ke Rp17.911/USD

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Selasa Menguat ke Rp17.911/USD

Ade Hapsari Lestarini • 6 October 2026 09:41

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan, Selasa, bergerak menguat enam poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.911 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.917 per USD.

Penguatan rupiah mengikuti jejak mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat tipis. Dolar AS menguat tipis pada perdagangan akhir Senin waktu setempat. Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,23 persen menjadi 102,167 pada pukul 15.00 waktu setempat (19.00 GMT).

Melansir Xinhua, Selasa, 6 Oktober 2026, pada perdagangan akhir di New York, nilai tukar euro turun menjadi 1,1215 dolar dari 1,1252 dolar pada sesi sebelumnya. Sementara pound Inggris turun menjadi 1,3219 dolar dari 1,3239 dolar pada sesi sebelumnya.

Selain itu, dolar AS diperdagangkan pada level 158,00 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 157,80 yen Jepang pada sesi sebelumnya.

Dolar AS menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,8307 franc dari 0,8287 franc, namun melemah terhadap dolar Kanada menjadi 1,4256 dolar dari 1,4259 dolar. Dolar AS juga menguat terhadap krona Swedia menjadi 10,0403 krona dari 10,0366 krona.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

 

Rupiah sempat melemah


Sebelumnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin bergerak melemah 35 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.917 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.882 per USD.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menyampaikan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi konflik antara Ansarullah Yaman dengan Arab Saudi.

"Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok tersebut," ucapnya dilansir Antara.

Kelompok Ansarullah di Yaman telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, sebagai tanggapan atas serangan yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.

Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai produksi di negara pengekspor utama kawasan tersebut.

(Ade Hapsari Lestarini)