KKP melalui OII menjalin kerja sama dengan 13 mitra industri dan satu perguruan tinggi dalam VOGA 2026 di Jakarta, Selasa, 3 November 2026. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan)
VOGA 2026: Upaya KKP Siapkan SDM Kelautan dan Perikanan Hadapi Perubahan Industri
Patrick Pinaria • 3 November 2026 16:50
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat sinergi antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) melalui kegiatan Vocational Goes to Actors (VOGA) 2026 pada Selasa, 3 November 2026. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) kelautan dan perikanan agar semakin relevan dengan kebutuhan industri, serta memiliki daya saing di pasar kerja global.
Penguatan kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama antara Ocean Institute of Indonesia (OII) KKP dengan 13 mitra dunia usaha dan dunia industri, serta satu perguruan tinggi. Kerja sama ini diarahkan untuk memperluas kesempatan pembelajaran, meningkatkan kompetensi peserta didik, serta memperkuat penyerapan lulusan pendidikan vokasi.
Direktur Eksekutif Ocean Institute of Indonesia, I Nyoman Radiarta, mengatakan VOGA 2026 merupakan forum kolaborasi untuk memperkuat masa depan generasi muda kelautan dan perikanan Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 peserta secara langsung, termasuk 250 peserta didik OII Kampus Jakarta, 61 lulusan yang akan bekerja di luar negeri, sekitar 50 perwakilan industri, dan 15 alumni sukses.
Nyoman menjelaskan saat ini terdapat sekitar 5.955 peserta didik pendidikan vokasi kelautan dan perikanan, yang terdiri atas 5.074 peserta pendidikan tinggi, dan 881 peserta pendidikan menengah. Melalui VOGA, KKP berupaya memperkuat keterhubungan antara pendidikan dengan kebutuhan industri agar kompetensi lulusan semakin relevan dan kesempatan kerja semakin terbuka.
"VOGA 2026 berfokus pada empat penguatan strategis, yakni kemitraan industri, kesempatan kerja internasional, keselarasan pendidikan dengan kebutuhan industri, serta pengembangan jejaring alumni," kata Nyoman yang juga menjabat Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP).

Direktur Eksekutif Ocean Institute of Indonesia (OII), I Nyoman Radiarta, saat memaparkan fokus penguatan strategis VOGA 2026 yang bertujuan untuk mencetak lulusan vokasi yang relevan dan siap bersaing di dunia industri kelautan dan perikanan. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan)
Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan tersebut juga diisi dengan pelepasan lulusan OII untuk bekerja di luar negeri dan talkshow bersama pelaku industri serta alumni sukses. Berdasarkan data penempatan periode 2026–2027, terdapat 302 lulusan yang akan diberangkatkan untuk bekerja di luar negeri.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 61 lulusan OII yang hadir secara langsung dilepas untuk bekerja di sejumlah negara. Mereka terdiri atas 27 orang dengan tujuan Taiwan, 22 orang ke Jepang, enam orang ke Suriname, lima orang ke Korea Selatan, dan satu orang ke Malaysia.
Dari jumlah tersebut, 44 orang merupakan lulusan bidang perikanan tangkap, tujuh orang dari bidang perikanan budidaya, dan sepuluh orang dari pengolahan hasil perikanan. Pelepasan ini menunjukkan terbukanya peluang bagi lulusan pendidikan vokasi kelautan dan perikanan Indonesia untuk berkarier di pasar kerja internasional.
Nyoman menegaskan, VOGA diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan kolaborasi nyata dan berkelanjutan. Untuk itu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan menetapkan lima langkah tindak lanjut, mulai dari mengawal kerja sama industri melalui pemagangan dan rekrutmen, menyelaraskan kurikulum, hingga mengembangkan sistem informasi serta jejaring penempatan kerja di dalam dan luar negeri.
Langkah lainnya mencakup penguatan peran alumni dalam peningkatan kompetensi dan kewirausahaan serta evaluasi berkala terhadap kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Dalam arahannya, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan II Irwan Meilano menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat. Menurutnya, perkembangan teknologi turut mengubah jenis pekerjaan sekaligus menghadirkan profesi baru di sektor kelautan dan perikanan.
Irwan mencontohkan munculnya sejumlah pekerjaan yang sebelumnya belum banyak dikenal, seperti operator pakan otomatis di tambak, teknisi sistem budi daya, analis data satelit untuk pemantauan ikan, pilot drone untuk survei pesisir perikanan, hingga ahli karbon biru dan mangrove.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan II, Irwan Meilano, memberikan arahan mengenai pentingnya kemampuan adaptasi, kolaborasi, serta peran aktif pelaku industri dalam menyusun kurikulum pendidikan vokasi untuk menghadapi perubahan dunia kerja. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan)
Ia mengingatkan lembaga pendidikan vokasi perlu mempersiapkan peserta didik bukan hanya untuk pekerjaan yang tersedia saat ini, tetapi juga pekerjaan baru yang mungkin muncul ketika mereka menyelesaikan pendidikan.
"Yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasinya. Antisipasi tentu dilakukan melalui kerja sama. Jadi, tidak ada kata kunci yang kemudian bisa menjadi resep agar kita bisa bertahan di tengah seluruh perubahan tersebut kecuali lewat kolaborasi," ujar Irwan.
Ia juga mendorong keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan vokasi. Menurutnya, pelaku industri memiliki pengalaman menghadapi perubahan dan perkembangan kebutuhan tenaga kerja yang dapat menjadi masukan strategis bagi lembaga pendidikan.
Selain penyelarasan kurikulum, Irwan mengajak pelaku industri memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar langsung di lingkungan kerja, sekaligus terlibat sebagai narasumber dan dosen praktisi. Dia juga menekankan pentingnya inovasi dan penelitian terapan yang dapat memberikan solusi bagi kebutuhan industri.
Dalam talkshow VOGA 2026, perwakilan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Taufiq Budiman Atmamihardja, turut menjelaskan mengenai kebutuhan SDM untuk mendukung program prioritas nasional, khususnya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan modernisasi kapal perikanan.
Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029, serta distribusi bantuan sebanyak 4.582 kapal perikanan.
"Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, dibutuhkan SDM dengan kompetensi di bidang pengelolaan keuangan, teknik perkapalan, konstruksi, kesyahbandaran, pengelolaan produksi perikanan tangkap, hingga analisis data statistik," ujar Taufiq.
Suasana sesi talkshow VOGA 2026 yang menghadirkan perwakilan KKP dan pelaku industri untuk membahas secara komprehensif mengenai proyeksi kebutuhan, kompetensi, dan penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan tangkap maupun budi daya. (dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan)
Sementara itu, perwakilan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Muhammad Rifki, memaparkan kebutuhan tenaga kerja untuk empat program prioritas nasional di bidang budi daya. Program tersebut meliputi Integrated Shrimp Farming di Sumba Timur, revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa, budi daya ikan darat tematik Mini Recirculating Aquaculture System (RAS), dan Mina Padi.
Ia menjelaskan, kebutuhan SDM untuk mendukung program tersebut mencakup kompetensi teknis produksi, penguasaan teknologi, serta manajemen usaha. Oleh karena itu, pendidikan vokasi diharapkan mampu menyelaraskan antara kurikulum dengan kebutuhan program prioritas nasional, menyiapkan tenaga kerja terampil dan tersertifikasi, serta memperkuat kerja sama dengan industri.
Sementara dari perspektif industri, perwakilan PT Suri Tani Pemuka, Andi Trapsilo, menilai lulusan pendidikan vokasi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan praktis, soft skills, kemampuan memahami operasional pabrik maupun farm, serta sertifikasi kompetensi.
Hal senada disampaikan perwakilan PT Central Proteina Prima Tbk, Zulfikar. Dia menyoroti pentingnya penguasaan teknologi, kemampuan analisis data, serta keterampilan praktik untuk menjawab tantangan industri akuakultur.
"Kesenjangan antara pembelajaran teori dan kebutuhan praktik di industri perlu dijembatani melalui pemagangan, dosen praktisi, serta sertifikasi kompetensi," kata Zulfikar.
Melalui VOGA 2026, KKP berharap kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan dunia industri dapat terus diperkuat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan SDM kelautan dan perikanan yang kompeten, profesional, produktif, berkarakter, serta berdaya saing global untuk mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.