Penguatan Tenaga Medis di Wilayah Paparan Karhutla Dinilai Penting

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. Istimewa.

Penguatan Tenaga Medis di Wilayah Paparan Karhutla Dinilai Penting

Fachri Audhia Hafiez • 12 October 2026 19:55

Jakarta: Upaya memperkuat pelayanan kesehatan di daerah-daerah yang terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai penting. Langkah ini dipandang mendesak menyusul meluasnya dampak kesehatan pada masyarakat.

“Wilayah dengan paparan tinggi perlu memperoleh penguatan tenaga, persediaan medis, dan kemampuan rujukan berdasarkan kebutuhan penduduk,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini dikutip melalui keterangan tertulis, Senin, 12 Oktober 2026.
 


Yahya menjelaskan, penanganan kesehatan akibat kabut asap berkepanjangan harus disesuaikan dengan tingkat dan durasi paparan masyarakat. Kemenkes bersama dinas kesehatan setempat didorong menghubungkan pemantauan kualitas udara secara langsung dengan kesiapan fasilitas kesehatan.

"Kabut asap yang berkepanjangan memerlukan penanganan kesehatan yang mengikuti lama dan tingkat paparan masyarakat. Pemerintah perlu mengenali warga yang terus terpapar, menyediakan pertolongan sejak awal, dan menjaga kesinambungan perawatan bagi mereka yang kondisinya memburuk," ucap Yahya.


Karhutla. Foto: Dok. MGN.

Berdasarkan data Kemenkes periode Agustus hingga 21 September 2026, tercatat sebanyak 174.694 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tujuh provinsi prioritas karhutla. Dari jumlah tersebut, 40.363 di antaranya merupakan balita. Selain ISPA, dampak kabut asap pekat juga memicu kecelakaan lalu lintas hingga memakan korban jiwa.

Melihat kondisi tersebut, Yahya mendorong fasilitas pelayanan kesehatan memaksimalkan sistem triase bagi korban karhutla. Termasuk memberikan perhatian ekstra kepada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

"Dengan kondisi seperti ini, semua warga menjadi rentan. Maka penanganan awal untuk korban harus menjadi perhatian. Pelayanan kesehatan harus siap mengikuti perubahan keadaan, termasuk ketika paparan berlangsung lebih lama," ujar Yahya.

(Fachri Audhia Hafiez)