Rupiah Dibuka ke Rp17.912/USD Rabu Pagi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.912/USD Rabu Pagi

Eko Nordiansyah • 14 October 2026 09:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelamahan. Rupiah kembali melemah dari dolar AS yang juga turun menjelang rilis data inflasi.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 14 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp17.912 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp17.900 per USD pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.925 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.894 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cederung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD.

Ibrahim menyebut, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global. Pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi dari AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina. 

Kekhawatiran mengenai kerentanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk tetap menjadi sorotan, setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran menyerang bandara internasional Riyadh pada akhir pekan, serta adanya laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz. 

"Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September. Sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia," ujar Ibrahim.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Angka CPI utama bulan September diperkirakan naik 0,6 persen secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,4 persen pada bulan Agustus. Inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen. 

"Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat juga akan menjadi perhatian pasar," katanya.

(Eko Nordiansyah)