Dolar AS Melemah Jelang Rilis Data CPI, Euro dan Rupee Lanjutkan Reli

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Melemah Jelang Rilis Data CPI, Euro dan Rupee Lanjutkan Reli

Eko Nordiansyah • 14 October 2026 08:40

New York: Indeks dolar AS turun pada Selasa, 13 Oktober 2026, menyusul pernyataan bernada dovish dari seorang pembuat kebijakan Federal Reserve dan penguatan euro. Sementara itu, rupee India melanjutkan reli tajamnya hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan setelah intervensi agresif dari bank sentral.

Dikutip dari Investing, Rabu, 14 Oktober 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,4 persen ke level 102,20. Indeks tersebut masih berada di dekat level tertinggi dalam 18 bulan.

The Fed perkirakan inflasi melambat jelang rilis data CPI

Pelaku pasar mata uang minggu ini berfokus pada laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang masing-masing akan dirilis Rabu dan Kamis, guna mendapatkan indikator lebih lanjut mengenai kondisi inflasi saat ini serta petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter Federal Reserve di masa mendatang.

Pembaruan data CPI dan PPI ini akan dirilis setelah data terbaru memicu penyesuaian kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober.

Pada Selasa, Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan ia masih memperkirakan satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini. Namun tidak melihat perlunya kenaikan lebih lanjut pada 2027.

Ia menyoroti adanya tekanan disinflasi yang mendasar, meskipun terdapat tekanan dari harga energi dan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Para pedagang valuta asing juga memantau pasar obligasi AS, seiring kembalinya investor instrumen pendapatan tetap (fixed income) usai libur Columbus Day. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) melanjutkan penurunannya dari pekan lalu, yang semakin meredakan tekanan jual obligasi yang sebelumnya berlangsung terus-menerus. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 3,9 basis poin dan berakhir di level 5,209 persen.
(Ilustrasi. Foto: Dok Freepik)

Rupee India melanjutkan penguatan ke level tertinggi sejak September

Beralih ke mata uang utama lainnya, rupee India terus menjadi sorotan di Asia, menguat ke level 95,305 per dolar sehari setelah mencatatkan kenaikan harian terbaiknya dalam enam bulan terakhir. Penguatan ini dipicu oleh paket intervensi agresif yang dilakukan Reserve Bank of India (RBI) pada akhir pekan lalu.

Dengan membuka fasilitas valuta asing khusus untuk memasok dolar secara langsung dari cadangan devisa kepada perusahaan pemasaran minyak milik negara (OMC), RBI berhasil menghilangkan sumber terbesar permintaan dolar pasar tunai (spot) korporasi dari bursa valuta asing harian.

Aturan yang lebih ketat terhadap kontrak derivatif valas tanpa eksposur aset dasar memaksa unit perdagangan leverage dan pelaku short-selling spekulatif untuk segera melakukan pembatalan posisi (unwind) dalam beberapa sesi perdagangan.

Euro tertahan di dekat level terendah sejak Mei 2025

Di Eropa, nilai tukar euro naik 0,3 persen menjadi USD1,1198 namun tetap berada di dekat level terendah sejak Mei 2025.

Kekhawatiran investor mengenai proyeksi defisit anggaran Prancis sebesar 5,4 persen dan kebuntuan politik menjelang pemilihan presiden tahun 2027 terus membayangi kinerja aset-aset Eropa.

Meskipun imbal hasil obligasi pemerintah Prancis (OAT) tenor 10 tahun tertahan di kisaran 4,88 persen, selisih imbal hasil (spread) yang lebar dibandingkan obligasi pemerintah Jerman (Bund), menyebabkan premi risiko yang tinggi tetap melekat pada mata uang tunggal tersebut.

Di tengah ekspektasi pasar uang, Bank Sentral Eropa (ECB) akan mempertahankan sikap kebijakan yang hati-hati guna menghindari pengetatan kondisi keuangan lebih lanjut, euro tidak memiliki dukungan imbal hasil yang memadai untuk keluar dari tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

(Eko Nordiansyah)